Ramadan 2017

Mengenal Lebih Dekat Sejarah Masjid Kiai Sholeh Darat di Semarang

Di tempat itulah dulu, ulama yang bernama lengkap Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani mengembangkan ilmunya.

Penulis: faisal affan | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas
Ziarah di makam KH Soleh Darat di kompleks Permakaman Bergota Kota Semarang, Kamis 20 Oktober dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 22 Oktober 2016 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Jejak ulama besar asal Semarang, Kiai Sholeh Darat, terekam pada sebuah bangunan masjid dengan nama yang sama.

Secara umum, bangunan masjid yang berlokasi di Jl Kakap No 212, Dadapsari, Semarang Utara itu, tidak jauh berbeda dengan masjid lainnya.

Di tempat itulah dulu, ulama yang bernama lengkap Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani mengembangkan ilmunya.

Hombasri, Ketua Takmir Masjid menjelaskan, keberadaan Masjid As-Sholeh Darat ini sudah mengalami beberapa kali renovasi.

Lokasi masjid yang berada di wilayah yang kerap kali dilanda banjir itu harus ditinggikan agar tidak terendam air.

"Selama berdirinya masjid ini, sudah ada tiga kali pengurukan," jelasnya kepada Tribun Jateng, Selasa (30/5) sore.

Bila mengunjungi masjid ini nampak atap gentingnya sudah hampir menyentuh kepala orang dewasa.

Sore itu, tak nampak aktivitas apapun yang ada di dalam masjid. Hanya ada beberapa orang yang merebahkan badan sejenak setelah melakukan ibadah salat Ashar.

Hombasri juga menjelaskan asal-usul kata "Darat" yang disematkan pada nama Kiai yang wafat pada28 Ramadan 1321 H atau 18 Desember 1903 ini.

"Nama 'Darat' sebenarnya ungkapan masyarakat pada masa itu, karena lokasi di sekitar masjid masih sering digunakan untuk menambatkan atau mendaratkan kapal-kapal nelayan. Karena pada saat itu, daerah sini masih berupa bibir pantai utara Semarang," ungkapnya.

Hombasri menambahkan, di sisi masjid, ada petilasan yang disebut sebagai makam. Namun, kata di, sebenarnya bukanlah makam tempat untuk meletakkan jenazah.

Melainkan hanya sebuah simbol bahwa Kiai Sholeh Darat pernah melakukan kegiatan agama di sekitar masjid ini.

"Makam Kiai Sholeh Darat sudah dipindah di TPU Bergota sejak zaman Kolonial Belanda. Hanya saja hingga sekarang, masih ada beberapa peziarah yang meyakini makam Mbah Sholeh Darat berada di sini," terangnya.

Sebagai informasi, Kiai Sholeh Darat merupakan satu di antara ulama besar yang menjadi guru dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Ashari, dan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Begitu pula RA Kartini yang juga tercatat sebagai muridnya.

Rekam jejak Kiai Sholeh Darat lainnya yang masih terjaga hingga kini adalah karya-karya tulis kitabnya, termasuk sejumlah karya terjemahan.

Tema kitabnya beragama, mulai fikih hingga tasawuf. Saat ini, ada sekelompok yang memiliki minat untuk mengkaji lagi kitab-kitab karya Kiai Sholeh Darat, yakni Komunitas Pencinta Kiai Sholeh Darat (Kopisoda).

Hombasri juga menyampaikan harapannya kepada Pemerintah Kota Semarang, yang menurutnya kurang memperhatikan peninggalan sejarah pengembangan ajaran Islam.

"Masjid ini merupakan satu di antara bukti bahwa pada masa itu, terdapat seorang Kiai dan juga guru para ulama-ulama besar di Nusantara. Paling tidak, pemerintah Kota Semarang mau memberikan sedikit bantuan, demi melestarikan peninggalan ini. Jika tidak segera dilakukan, pasti akan hilang nantinya," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved