PT SAE Bantah akan Babat Habis Hutan Gunung Slamet

PT Sejahtera Alam Energy (PT SAE) mengeluarkan pernyataan sikap menanggapi berita viral di media sosial yang dinilai mendiskreditkan perusahaan.

PT SAE Bantah akan Babat Habis Hutan Gunung Slamet
TRIBUNJATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO
Truk pengangkut tanah uruk melaju di jalan yang baru dibangun untuk keperluan infrastruktur proyek geotermal desa pandansari kecamatan Paguyangan kabupaten Brebes 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - PT Sejahtera Alam Energy (PT SAE) mengeluarkan pernyataan sikap menanggapi berita viral di media sosial yang dinilai mendiskreditkan perusahaan.

Community Relation PT SAE Riyanto Yusuf membantah pihaknya akan membabat 24.660 hektar hutan di lereng Gunung Slamet dalam rangka Pengembangan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Baturraden.

"Berita akhir-akhir ini di media sosial serta beberapa media massa yang menyebut PT SAE akan membabat 24.660 hektar hutan di lereng Gunung Slamet untuk Pengembangan Proyek
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) tidak benar dan mendiskreditkan PT SAE," katanya, Jumat (2/6).

Riyanto mengklaim, PT SAE selalu mematuhi ketentuan dan peraturan Perundangan yang berlaku.

Pada periode eksplorasi saat ini, kata dia, PT SAE diperkenankan menggunakan lahan hutan seluas 488.28 hektar sesuai Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) tahap eksplorasi nomor 20/1/IPPKH/PMA/2016.

Hingga sekarang, kata dia, luas lahan hutan yang telah dibuka oleh PT SAE tidak lebih dari 45 hektar.

"Kegiatan pembukaan lahan PT SAE pun selalu dimonitor dan dievaluasi oleh instansi pemerintah terkait,"katanya

Riyanto mengatakan, lahan yang disebut seluas 24.660 hektar sebenarnya adalah luas Wilayah Kerja Panas Bumi Baturraden sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 1557.K/30/MEM/2010, bukan total luas lahan yang akan dibuka untuk pengembangan PLTP.

Kegiatan PT SAE juga tidak sembarangan, melainkan mengacu Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012. Dalam Permen itu, kegiatan eksplorasi panas bumi wajib dilengkapi dengan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup(UPL).

Mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan, Riyanto mengklaim, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) justru sebagai salah satu pembangkit listrik yang paling ramah lingkungan dan
terbarukan.

Elemen penting pada sistem panas bumi, menurut dia, menuntut terjaganya hutan di kawasan pengembangan pembangkit listrik demi kesinambungan pasokan air ke dalam sistem panas bumi.

"Atas dasar ini, tentunya PT SAE berkomitmen melakukan upaya terbaik dalam menjaga hutan di sekitarnya agar tetap lestari sebagai salah satu kunci keberhasilan operasi PLTPB jangka panjang," katanya

PT SAE baru-baru ini melaksanakan kembali sosialisasi tentang kegiatan eksplorasi pengembangan panas bumi di Wilayah Kerja (WK) Panas Bumi Baturraden, (24/5).

Sosialisasi itu berkaitan dimulainya kembali kegiatan PT SAE setelah sempat berhenti beroperasi menyusul dampak pembukaan lahan menyebabkan air sungai Prukut Cilongok keruh. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved