Duterte Ancam Bumi Hanguskan Marawi jika Konflik Tak Kunjung Usai
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengatakan, konflik senjata di Marawi bisa saja diakhiri hanya dalam waktu 24 jam
TRIBUNJATENG.COM, MANILA - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengatakan, konflik senjata di Marawi bisa saja diakhiri hanya dalam waktu 24 jam. Dia mengancam akan meledakkan Marawi, jika konflik senjata antara otoritas Filipina dan militan Maute terus berlanjut.
"Saya bisa saja mengakhiri perang ini dalam waktu 24 jam. Tinggal bom saja seluruh Kota Marawi sampai rata dengan tanah," kata Duterte.
Menurut laporan pejabat militer setempat, setidaknya korban tewas akibat konflik senjata di Marawi sudah mencapai 175 orang. Di antara yang tewas selama 10 hari konflik senjata itu termasuk 120 militan Maute, 36 tentara pemerintah, dan 19 warga sipil.
Sementara itu hujan tembakan mewarnai masa gencatan senjata di Marawi, Filipina. Konflik senjata antara otoritas Filipina dan militan Maute terus berlanjut meski kedua pihak telah bersepakat untuk menghentikannya sementara.
Padahal, gencatan senjata berdurasi empat jam telah disepakati untuk memberikan kesempatan pada proses evakuasi warga sipil. Alhasil, ratusan warga yang hendak menyelamatkan diri terpaksa urung meninggalkan kota tersebut.
Gencatan senjata itu malah menelan korban cedera sebanyak dua orang. Meski demikian, ada sekitar 179 orang warga yang berhasil diselamatkan oleh pasukan keamanan dari pemerintah.
"Kami sangat senang akan hasil gencatan senjata selama empat jam untuk aksi kemanusiaan itu, yang dilakukan Minggu kemarin dari pukul 08.00 sampai 12.00," kata Juru Bicara Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), Brigjen Restituto Padilla.
"Namun, sangat menyedihkan bahwa meski ada upaya penyelamatan yang dilakukan, ada pelanggaran yang dilakukan para penjahat di daerah itu," tambahnya.
Menurut Padilla, selain dua anggota militer yang cedera akibat konflik senjata pada Minggu, ada pula seorang warga yang tertembak oleh sniper. Upaya penyelamatan dan penyaluran bantuan kemanusiaan dikatakan akan terus dilakukan sampai Marawi bisa direbut kembali dari tangan para teroris.
Doa Bersama
Umat lintas agama di Filipina menggelar doa bersama untuk mendoakan konflik senjata di Marawi, Filipina. Sekelompok warga Muslim dan Nasrani berkumpul di Cagayan de Oro, Filipina.
Sebuah doa umum dibagikan pada tiap orang yang berpartisipasi, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan bahasa lokal Filipina. Doa umum tersebut kemudian diucapkan bersama oleh umat Muslim dan Nasrani yang ikut serta dalam doa bersama itu.
Mgr Rey Monsanto, seorang vikaris dari Keuskupan Cagayan de Oro mengatakan, doa tersebut bukan hanya mendoakan perdamaian atas konflik tersebut. Doa tersebut juga mengharapkan agar tiap individu di dunia ini dapat menjadi pelaku atau saluran damai.
"Kami membuat sebuah doa umum yang dapat diikuti oleh umat lintas agama dan doa itu dibuat singkat karena hanya menyebutkan apa yang kami benar‑benar harapkan," ujar Monsanto.
Ketua Asosiasi Muslim Oro, Mohamad Gondarangin, mendesak pemerintah agar segera mengakhiri serangan pasukannya di Marawi. Menurut Gondarangin, serangan udara yang dilakukan di Marawi hanya menghancurkan rumah warga, bukan menyerang teroris yang menyerbu kota itu.
"Kami sudah kehilangan banyak, kami tak bisa lagi kehilangan semua yang kami tinggal di kota kami," ucap Mohamad Gondarangin.(tribunjateng/cetak/rvc/sunstar/inquirer)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pasukan-marinir-filipina_20170529_145634.jpg)