Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pembatasan Lahan Parkir Membuat Omzet Penjual Oleh-oleh di Jalan Pandanaran Menurun

Yuniati, Kepala Toko Bandeng Juwana, mengaku saat ini pembelinya semakin menurun sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu

Tayang:
Penulis: Nur Rochmah | Editor: muslimah
Tribun Jateng/hermawan handaka
Pengunjung memadati kawasan pusat oleh-oleh khas Semarang yang berada di Jalan Pandanaran Kota Semarang. Berbagai oleh-oleh khas Semarang ada di sini mulai dari bandeng presto, wingko babad, roti ganjel rel, lumpia dan masih banyak lagi. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Nur Rochmah

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sejak lahan parkir di sekitar area penjual oleh-oleh khas Semarang mulai dipersempit, sekarang banyak penjual yang mengeluh karena penjualan mereka semakin sepi dan menurun minat pembelinya.

Yuniati, Kepala Toko Bandeng Juwana, mengaku saat ini pembelinya semakin menurun sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu.

"Sekarang pengunjung kan tidak boleh parkir di pinggiran jalan seperti dulu lagi. Area parkir pun mejadi sempit hanya di depan toko. Sebenarnya disediakan lahan parkir di dekat rumah susun, tapi jaraknya cukup jauh. Dan konsumen menjadi malas juga kalau harus bolak-balik. Semenjak itu pembeli kami semakin sepi," kata Yuni, Jumat (9/6).

Tak hanya Yuni yang mengeluh akan penyempitan lahan parkir, Budiastuti, bagian Logistik di pusat oleh-oleh Djoe, Jalan Pandanaran, Semarang, juga mengeluhkan keterbatasan lahan parkir yang ia rasa saat ini sangat minim.

"Semenjak pembatasan lahan parkir dari pemerintah pusat, saat ini penjualan di toko kami turun drastis sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu," ujar Tuti di hadapan Tribun Jateng saat ditemui di kantornya.

Hal tersebut, ternyata juga mempengaruhi para distributor makanan yang sudah mulai mengurangi stok barang di toko oleh-oleh Djoe. Pengurangannya stok kisaran 30 persen setiap harinya.

Selain pengurangan stok sebagai upaya meminimalisir kerugian karena sepinya pelanggan, dari pihak Tuti juga mencoba berinovasi dalam menjaga ketahanan makanan agar tidak mudah basi. Misalnya, menyediakan lumpia beku yang lebih tahan lama.

"Di tempat kami yang paling diminati pembeli adalah lumpia semarang. Jadi untuk mengantisipasi lumpia yang tidak laku, kami mulai menyediakan lumpia beku yang harganya kisaran Rp 75 ribu tanpa udang dan Rp 85 yang memakai udang. Jadi, lumpia beku ini bisa tahan sekitar tiga sampai empat harian. Kalau lumpia biasa kan hanya tahan 24 jam saja," tungkas Tuti. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved