Sering Disalahkan Jika Terjadi Kecelakaan, Asosiasi Pengusaha Truk Angkat Bicara
Sering Disalahkan Jika Terjadi Kecelakaan, sosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah Angkat Bicara
Penulis: raka f pujangga | Editor: iswidodo
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah, menilai kecepatan pertumbuhan jumlah kendaraan tidak diimbangi dengan penambahan infrastruktur jalan.
Ketua Aptrindo Jawa Tengah, Chandra Budiwan mengatakan, pembangunan infrastruktur jalan di seluruh Indonesia, seolah-olah melupakan perawatan jalan-jalan yang sudah lama ada.
"Sehingga ketika ada jalan baru dibuka, masyarakat langsung enggan menggunakan jalan lama yang sudah tidak karuan keadaannya," jelas dia, dalam rilisnya Rabu (14/6/2017).
Menurutnya, jalanan yang tidak terawat, selain membahayakan keselamatan berkendara juga menjadi kegemaran perampok atau begal jalanan untuk tempat beraksi.
"Sehingga ketika terjadi kecelakaan jangan hanya menyalahkan truknya saja," jelas dia.
Dia menambahkan, kepadatan dan kemacetan lalu lintas yang terjadi dimana-mana juga telah merubah perilaku pengguna jalan menjadi lebih emosional.
"Pengguna jalan makin sering terlihat saling bentak atau intimidasi, saling serobot, saling pepet, bahkan tak jarang terjadi saling pukul," ujar dia.
Memang diakuinya, secara teknis sudah banyak sopir truk yang sangat terlatih, berpengalaman dan bahkan bersertifikat.
"Namun sisi psikologis mereka tidak membaik, malah sebaliknya," ujar dia.
Kebijakan pemerintah yang tidak pernah berpihak pada pengusaha truk juga ikut memperparah kondisi dunia angkutan truk.
Semakin seringnya larangan operasional truk di hari-hari libur nasional, kenaikan pajak plat kuning dari 50 menjadi 80 persen, ketidakpastian pelaksanaan PM 134 tentang Overtonase dan Overdimensi.
Pemerintah seolah-olah terlalu memposisikan pengusaha angkutan truk sebagai musuh yang senantiasa harus selalu dijaga jarak, dijadikan kambing hitam dan ditakut-takuti dengan berbagai peraturan.
"Seharusnya pemerintah bisa lebih menghargai keberadaan perusahaan angkutan truk yang menjadi salah satu pilar pembangunan nasional, dengan lebih mengayomi dan membimbing seperti layaknya orang tua terhadap anaknya," kata dia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kecelakaan-truk_20170317_124231.jpg)