Breaking News:

Ramadan 2017

HALAQAH: Keringanan Puasa bagi Sopir

Mau tanya, saat puasa Ramadan ini, bagaimanakah status kemusafiran bagi sopir bus?

tribunjateng/hermawan handaka
PEMUDIK - Pantauan Udara di Gringsing Kabupaten Batang Jateng, tempat bertemunya exit tol Gringsing dengan Jalan raya Jalur Pantura. Tampak sejumlah kendaraan sudah tiba di exit tol Gringsing, Selasa 20 Juni 2017 

TRIBUNJATENG.COM - Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saya Ahmad dari Mangkang Kulon. Mau tanya, saat puasa Ramadan ini, bagaimanakah status kemusafiran bagi sopir bus?

Jika dianggap musafir, apakah mereka boleh tidak puasa? Sedangkan para sopir setiap hari melakukan perjalanan, dan musafir itu batasnya tiga hari saja. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jawaban

Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.
Penanya dan pembaca yang budiman dan dirahmati Allah SWT.

Puasa adalah ibadah yang diwajibkan tidak hanya kepada umat Nabi Muhammad, tapi juga kepada semua umat para nabi sebelum Nabi Muhammad. Tentu tata cara berpuasa antara satu nabi dengan nabi yang lain berbeda syariatnya. (QS. Al-Baqarah 183)

Salah satu rukhshah atau dispensasi boleh meninggalkan puasa adalah orang yang sedang melakukan perjalanan (musafir) dengan perjalanan yang mencapai jarak diperkenankan salat meringkas (qashar) (-+ 83 km) dan bukan perjalanan untuk tujuan berbuat maksiat.

Orang yang selalu bepergian dalam bahasa fikihnya disebut mudimus safar.

Sopir, kondektur, masinis dan yang lain masuk dalam katagori ini.

Dan hukum bagi mudimus safar boleh mengambil rukhshah sebagaimana orang yang bepergian biasa.

Meskipun demikian bagi para sopir kalau memang perjalananya tidak masyaqqah atau berat, hendaknya tidak mengambil rukhshah dengan tetap menjalankan puasa. (Kasyifatu al-Saja 92. Al-Muhadzab Juz 1 Hal. 103).

Ada beberapa pendapat ulama tentang masa bagi musafir.

Pendapat yang mengatakan batas musafir itu tiga hari adalah untuk mereka yang bepergian kemudian menetap dalam suatu tempat. Jadi dia menyandang status musafir hanya tiga hari di tempat itu dan berhak untuk mengambil rukhshah sebagai seorang musafir.

Sedangkan para sopir, mereka selalu dalam perjalanan atau bahasa fikihnya mudimus safar, jadi tidak masuk dalam kategori ini.

Semoga bermanfaat.
Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat. Terima kasih. Wallahu a’lam bi al-shawab.

KH Mandzhur Labib
Ketua Umum RMI-NU Jateng
Pengasuh Pondok Pesantren Sabilunnajah Kendal

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved