FOCUS

Mudik Hari Baik

MUDIK atau pulang kampung di saat Lebaran ada muatan spiritual yaitu bersilaturahmi dengan keluarga, sanak saudara, handai tolan dan kawan lama maupun

Mudik Hari Baik
tribunjateng/dok
MUDIK atau pulang kampung di saat Lebaran ada muatan spiritual yaitu bersilaturahmi dengan keluarga, sanak saudara, handai tolan dan kawan lama maupun relasi bisnis sekaligus merayakan Hari Kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- MUDIK atau pulang kampung di saat Lebaran ada muatan spiritual yaitu bersilaturahmi dengan keluarga, sanak saudara, handai tolan dan kawan lama maupun relasi bisnis sekaligus merayakan Hari Kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Lebih dari itu, pemudik juga menunjukkan rasa bakti kepada orangtua sekaligus sebagai gambaran keberhasilan menjalani hidup di perantauan. Karena untuk pulang kampung butuh biaya besar dan persiapan matang, terlebih pemudik yang telah berkeluarga.

Jawa Tengah sebagai daerah utama asal perantau tentu ada jutaan warga yang memanfaatkan momen Lebaran untuk pulang kampung, meski biaya tiket pesawat, kereta api, bus atau kapal lebih mahal dibanding hari biasa. Gubernur Ganjar Pranowo memperkirakan jumlah pemudik ke Jateng tahun 2017 akan mencapai lebih dari 8 juta orang. Meningkat dibanding jumlah pemudik Lebaran 2016 sebanyak 6.657.215 orang.

Jika dirata-rata satu orang pemudik bawa bekal dana pulang kampung Rp 4 juta untuk libur sepekan, bisa dihitung kasar sekitar Rp 32 triliun uang mengalir ke pedesaan atau perkampungan di Jawa Tengah. Mudik di hari baik harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Penggunaan dana yang paling besar bagi pemudik adalah biaya belanja di kota, transportasi, rekreasi, wisata kuliner, belanja dan lain-lain. Hanya sedikit orang yang memanfaatkan momen pulang kampung untuk menjalin bisnis ketemu relasi teman sekolah atau bicara investasi.

ISWIDODO wartawan Tribun Jateng
ISWIDODO wartawan Tribun Jateng (tribunjateng/bram)

Padahal di perkampungan banyak dijumpai home industri atau kerajinan yang prospek untuk dipasarkan di perkotaan, kuliner tradisional khas daerah tertentu dan tahan lama, yang tentu diminati penduduk urban. Sayang kalau momentum penting itu hanya lewat begitu saja tanpa ada bekas yang bisa dilanjutkan untuk buka peluang usaha.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyatakan, BI sediakan dana tunai Rp 167 triliun untuk diedarkan saat Idul Fitri. Kebutuhan dana lebaran itu meningkat dibanding tahun lalu yang Rp 160,4 triliun. Tapi sayang, baru sekitar 29 persen dana yang dibelanjakan di desa.

Anggota Komisi V DPR RI Hamka B Kady menilai persiapan pelayanan Mudik Lebaran 2017 lebih baik dan lebih siap dibanding tahun lalu. Hal itu ditandai dengan berfungsinya jalan tol yang baru dari Brebes Timur hingga Gringsing di Kabupaten Batang, tol Bawen ke Salatiga dan sebagainya. Terlebih aparat kepolisian dan tim gabungan menambah pos-pos pengamanan, penambahan rest area serta penyediaan BBM oleh Pertamina. Penyediaan dokter, montir kendaraan, helikopter Basarnas, bukti kesungguhan pemerintah ingin maksimal melayani masyarakat.

Jutaan pemudik pulang ke Jawa Tengah harus disambut dengan even-even kreatif. Selain untuk memberikan hiburan kepada pemudik juga menangkap peluang agar dana yang dibawa dari rantau dibelanjakan di kampung halaman. Sebut saja Pemkot Solo, yang menggelar tiga even besar yaitu Bakdan Ing Balekambang, Sendratari Ramayana di Benteng Vastenburg, serta Pekan Syawal di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ). (tribunjateng/iswidodo)

Penulis: iswidodo
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved