Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Aplikasi Jelajah Beri Informasi Lokasi Wisata Cagar Budaya

Connecting History Around You. Satu kalimat tersebut adalah tagline yang dibuat oleh Muhammad Mirza (23), untuk aplikasi besutannya JELAJAH

Tayang:
Penulis: faisal affan | Editor: iswidodo
tribunjateng/m sofri kurniawan
Connecting History Around You. Satu kalimat tersebut adalah tagline yang dibuat oleh Muhammad Mirza (23), untuk aplikasi besutannya yang diberi nama Jelajah. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Connecting History Around You. Satu kalimat tersebut adalah tagline yang dibuat oleh Muhammad Mirza (23), untuk aplikasi besutannya yang diberi nama Jelajah.

Memiliki harapan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya suatu bentuk sejarah, merupakan tujuan Mirza dalam mewujudkan aplikasi ini. Pemuda asal Kabupaten Batang ini, juga merasa resah akan kurangnya perhatian masyarakat terhadap bentuk sejarah, terutama dalam bentuk suatu bangunan.

"Banyak orang berkunjung ke Lawangsewu, Tugu Muda, dan Kota Lama. Namun tujuan terbesar mereka hanya untuk bisa berswafoto atau selfie, dengan latar belakangnya bangunan tersebut. Belum banyak yang begitu ingin tahu tentang sejarah sebuah bangunan tersebut," tegas mahasiswa Udinus Semarang, kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.

Mirza menilai degradasi kesadaran untuk mengapresiasi suatu sejarah bangsa semakin bertambah. Dia ingin masyarakat tidak melupakan sejarah masa lalu, yang sudah membentuk bangsa Indonesia sedemikian rupa.

Awal mula tercetus ide ingin membuat aplikasi Jelajah ini, akibat rasa ingin tahunya akan suatu bentuk bangunan bersejarah yang ada di Kota Bandung, Jawa Barat. Saat itu, Mirza masih magang di suatu perusahaan di Jakarta. Setelah masa magangnya selesai dan kembali ke Semarang, ia iseng membuat aplikasi ini, yang sebenarnya tidak begitu ia fokuskan.

"Saya awalnya hanya iseng, karena saya tidak begitu fokus dengan aplikasi Jelajah ini. Namun berjalannya waktu, saya menemukan problem solving dalam aplikasi ini. Akhirnya, saya juga membuat penelitian skripsi tentang kaitannya aplikasi sejarah dengan gamifikasi (penggunaan dari teknik desain permainan, permainan berpikir, dan permainan mekanik untuk meningkatkan non-game konteks)," jelasnya.

Fitur level

Dalam aplikasi Jelajah ini, Mirza memiliki tanggungjawab sebagai developer, untuk bisa memotivasi user agar terus mau mengulik tempat-tempat bersejarah. Maka dari itu, Mirza menyematkan fitur level dalam setiap tempat bersejarah yang didatangi user, dan mau mengulas pengalaman perjalanannya. Level 1 akan meningkat ke level 2 apabila user telah melebihi angka 400 experience.

"Experience bisa didapatkan apabila user mau berinteraksi dengan aplikasi. Misalnya, mengulas tempat bersejarah, berfoto, ambil video yang kesemuanya bisa diposting di aplikasi Jelajah. Bila ada kekeliruan alamat maupun deskripsi tentang tempat bersejarah, user juga bisa mengubahnya, namun tentunya dengan diverifikasi terlebih dahulu," kelakar mahasiswa jurusan Teknik Informatika ini.

Untuk menemukan agar user mau terus berinteraksi dengan aplikasi Jelajah, dan lebih banyak mengunjungi tempat-tempat bersejarah, Mirza melakukan riset selama tiga bulan di akhir tahun 2013. Dalam risetnya, Mirza akhirnya memasukkan konten gamifikasi dalam aplikasi Jelajah.

Aplikasi Jelajah ini sudah tersedia di Playstore sejak 15 April 2017, dan bertepatan dengan ulang tahun Kota Semarang sekaligus sebagai kado. Menggunakan nama pengembang Clorus, Mirza mengaku memiliki filosofi tersendiri.

"Clorus berasal dari kata clorofil atau zat hijau daun. Kita tahu bahwa daun merupakan bagian dari rantai makanan terendah di bumi. Bayangkan apabila tidak ada daun atau tumbuhan, apakah manusia dan hewan masih bisa hidup? Maka dari itu, saya ingin aplikasi-aplikasi yang saya buat bisa bermanfaat untuk orang banyak," ucapnya.

Cara Kerja

Cara kerja aplikasi Jelajah ini yakni, user hanya cukup mendaftar dengan memasukkan alamat email, nomor ponsel, nama depan, dan nama belakang. Saat sudah masuk, pengguna bisa memilih tab home yang berisi beberapa tempat bersejarah, yang berjarak maksimal 50 km dari posisi pengguna. Dan tab timeline, digunakan untuk memposting tempat bersejarah yang sedang dikunjungi.

Aplikasi Jelajah ini bisa digunakan di seluruh dunia, namun Mirza mengaku hanya ingin fokus di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Data tempat bersejarah yang didapatkan Mirza dilakukan dengan cara crawling. Yakni mengumpulkan database dari dunia maya sebanyak-banyaknya, lalu kemudian disaring menjadi beberapa tempat yang sudah terverifikasi.

Ke depannya, Mirza ingin aplikasi ini bisa memberikan poin dari setiap lokasi yang dikunjungi oleh pengguna. Dan poin tersebut bisa diubah menjadi diskon, untuk membeli oleh-oleh khas dari Kota atau kabupaten yang sudah dikunjungi.
Lokasi tepat

Di lain tempat, Elsafitri Damayanti (21), satu di antara pengguna aplikasi Jelajah mengatakan, iseng ingin mencoba aplikasi ini karena tertarik dengan user interface yang sudah ditunjukkan oleh Mirza. Setelah mencoba aplikasi Jelajah, wanita yang kerap dipanggil Elsa ini, mendapatkan berbagai referensi tempat wisata sejarah baru yang belum pernah ia kunjungi, sekaligus mendapatkan edukasi tentang sejarah tempat tersebut.

"Lumayan lah dapat referensi tempat baru. Lalu aplikasi ini juga memberikan informasi dan deskripsi sejarah tentang tempat-tempat yang saya kunjungi," terangnya.

Masih menurut Elsa, aplikasi Jelajah yang baru dikenalnya ini memiliki beberapa fitur menarik. Di antaranya bisa membagikan tempat bersejarah yang sudah dikunjungi, mengulas tentang kondisi tempat bersejarah tersebut, serta terdapat petunjuk arah untuk menuju ke tempat tersebut. Selama menggunakan aplikasi ini, Elsa tak pernah mengalami masalah yang berarti.

"Pas digunakan di ponsel saya semua berjalan dengan lancar. Upload fotonya cepat, dan tepat mendeteksi lokasi saya," imbuh wanita yang saat ini bekerja sebagai software engineer ini.

Saat Elsa berkunjung ke Jogja, ia sempatkan untuk mencoba aplikasi Jelajah ini. Dan benar, ia menemukan tempat bersejarah di Jogja, yakni, Taman Sari dan Keraton Jogja. Namun, di sana Elsa mengatakan, belum menemukan deskripsi dari kedua tempat ini. Ia hanya bisa check in, sebagai tanda jika Elsa telah menyambangi dua tempat tersebut.

Elsa begitu merasakan manfaat dari aplikasi ini. Menurutnya, sejak beberapa kali menggunakan Jelajah, ia jadi mengetahui bahwa Lawangsewu, Tugu Muda, dan Sam Poo Kong bukan hanya tempat untuk berswafoto. Namun, ada nilai sejarah yang harus dipahami, dan sebagai generasi penerus, Elsa juga memiliki tanggung jawab turut serta menjaga tempat bersejarah, agar tetap bisa dinikmati untuk generasi yang akan datang.

"Berkat aplikasi ini, sekarang semua orang yang menggunakannya bisa mendapatkan edukasi, sekaligus tempat wisata yang sarat akan sejarah. Saya juga menjadi tergugah untuk ikut serta menjaga tempat bersejarah, agar tetap bisa diketahui oleh generasi mendatang," pungkasnya. (tribunjateng/afn)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved