Liputan Khusus

Saya Rela Digaji Murah

"Walau gaji tidak seberapa, kenyataannya selalu bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selalu ada jalan dari Tuhan,"

Saya Rela Digaji Murah
tribunjateng/tim lipsus
Agustin Indrawati Dharmawan, Kepala SD Kuncup Melati 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - "Walau gaji tidak seberapa, kenyataannya selalu bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Selalu ada jalan dari Tuhan," ucap Agustin Indrawati Dharmawan, Kepala SD Kuncup Melati, tanpa menyebut honor yang diterima saat ini.

SD Kuncup Melati adalah satu dari sejumlah sekolah swasta di Kota Semarang yang memiliki program pendidikan gratis bagi siswa tidak mampu. Keberadaannya seolah menjadi fenomena tersendiri di tengah keluh-kesah masyarakat menyekolahkan anaknya di tahun ajaran baru 2017/2018.

Seperti diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Permendikbud No. 75/2016 sudah merestui sekolah menarik iuran dari masyarakat untuk menutup biaya operasional belajar mengajar siswa, meski pemerintah sudah menggelontorkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Bahkan, sekolah tingkat menengah atas, atau SMA/SMK di Jateng pun kini tak lagi gratis setelah berpindah kewenangan dari Pemkot Semarang ke Pemprov Jateng. Sayang, eksistensi sekolah dengan program pendidikan gratis itu tak selalu diminati masyarakat.

Sejak awal berdiri pada 1 Januari 1950 hingga sekarang, lembaga pendidikan Kuncup Melati yang memiliki jenjang TK, SD, dan SMP berada di bawah Yayasan Khong Kauw Hwee itu mengusung konsep gratis, dan hanya diperuntukan anak-anak kurang mampu dari segi ekonomi.

Agustin mengatakan, tidak ada perbedaan dalam hak menerima materi pelajaran bagi siswa di sekolah yang berada di Jalan Gang Lombok 6, Kauman, Semarang Tengah itu. Semua pelajaran sama seperti di sekolah lain meski gratis.
Bahkan, siswa juga memeroleh berbagai keperluan sekolah cuma-cuma seperti baju seragam, buku-buku, tas sekolah, sepatu, ikat pinggang, dan masih banyak lagi.

"Kadang, murid-murid juga memeroleh bantuan sembako dan makan siang jika ada tambahan pelajaran," tuturnya.
Agustin menuturkan, keberlangsungan sekolah Kuncup Melati menjalankan program sekolah gratis tak lepas dari keberadaan para donatur. Dari mereka, semua biaya operasional tercukupi.

Hanya saja terkait dengan manajemen, ia mengaku tidak mengetahui, dan hal itu menjadi kewenangan pihak yayasan.
Agustin bekerja di Kuncup Melati sejak 1980. Gaji yang diterimanya saat itu sebesar Rp 20 ribu, tetapi sekarang jauh tertinggal dibandingkan dengan pegawai negeri sipil (PNS). Sembilan tahun kemudian, ia diangkat menjadi Kepala SD sampai sekarang.

Meski pendapatan yang diterimanya jauh di bawah upah minimum regional (UMR), Agustin tidak pernah mengeluh. Wanita lulusan S1 Ikip Semarang 1985 itu tetap setia bekerja di sekolah itu. "Saya rela. Kebahagiaan tidak bisa diukur lewat materi," paparnya.

Meski gratis, Agustin berujar, jumlah siswa Kuncup Melati belakangan semakin menurun. Padahal, menurut dia, Kuncup Melati bisa dibilang berani bersaing dengan sekolah lain.

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved