OPINI

Toponimi Kampung yang Tenggelam

Toponimi Kampung yang Tenggelam. Heri Priyatmoko, Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Editor: iswidodo
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Heri Priyatmoko, Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 

Heri Priyatmoko, Dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

TRIBUNJATENG.COM - Mudik telah usai. Jawa tetap merupakan sasaran pemudik. Kita ingat dengan sepotong kalimat: mulih ning njawa. Kampung halaman sudah dijenguk. Meskipun hanya sesaat, namun kerinduan para perantau akan tanah kelahiran setidaknya terlunasi. Mereka mengumpulkan kepingan sejarah yang dianyam semasa kecil. Dalam kaitan ini, mudik merupakan momentum bernostalgia dan membincangkan kembali perubahan yang dialami oleh (warga) kampung.

Tanpa disadari, perkampungan di Jawa dibelit persoalan mendasar: krisis identitas! Belum lama ini, Pak Lurah di kampung saya pradul (bercerita). Ia kelabakan sewaktu anak-anak di sekolah dasar mencari data sekaligus bertanya mengenai asal-usul sejarah kampung yang dipimpinnya. Orangtua kekinian banyak yang geleng kepala serta membisu tatkala ditodong pertanyaan kritis oleh anaknya seputar sejarah nama kampung. Tingginya rasa ingin tahu bocah terhadap riwayat tanah kelahiran atau daerah tempat tinggalnya memang kerap kali bikin gelagepan. Pasalnya, sejarah lokal kampung memang tidak tertuliskan dalam pelajaran sekolah dan jarang pula diajarkan oleh para guru.

Menimbang realitas ini, ada baiknya menggali tumpukan kenangan masa lalu tentang kampung. Jangan sampai kita membiarkan tunas muda tidak bernafsu mendalami sejarah lokal dan melupakan identitas daerahnya. Orangtua juga harus paham bahwa nama tidak jatuh dari langit. Di masa lampau, banyak nama tokoh besar setempat yang dipakai masyarakat lokal untuk nama kampung. Riwayat historis nama kampung mengacu pada tradisi pemberian nama tempat yang berdasarkan nama tokoh yang pantas dihormati dan berpengaruh terhadap warga sekitar dan institusi tradisional.

Orangtua bisa menjelaskan pola umum sejarah ke buah hatinya. Dalam tradisi sejarah Kerajaan Mataram Islam, misalnya, pemberian nama merupakan bentuk apresiasi kepada abdi dalem (pegawai istana) atau sentana dalem (kerabat keraton) yang disegani rakyatnya (kawula). Para tokoh dihormati lantaran berkelakuan baik, berjasa terhadap masyarakat dan raja, serta berwibawa atau masih terhitung keturunan “darah biru”.

Selain ketokohan, penamaan suatu daerah juga mengacu pada nama jabatan dan tugas dalam birokrasi keraton. Kita ambil contoh, kampung Gading di Yogyakarta dan Surakarta adalah ruang hunian kelompok abdi dalem yang bertugas mengurus jenazah keluarga raja. Kemudian ada kampung Kepatihan, sebab tempo doeloe kawasan ini ditinggali patih kerajaan.

Merujuk penelusuran Radjiman (1985), nama wilayah bisa dikaitkan juga dengan benda yang berada di lokasi tersebut atau fungsinya. Sebagaimana Kandangsapi, dulu digunakan untuk menaruh seluruh lembu milik kerajaan. Ada pula kampung Krekop, yakni bekas kuburan komunitas Belanda yang berdiam di tanah koloni.

Paparan di atas hanyalah serpihan, bak kerikil kecil di tengah hamparan bebatuan. Di depan kita, banyak celah yang belum digarap (tak digubris). Sayang bila studi toponimi kita remehkan laksana kacang goreng yang tak mengenyangkan. Membaca keterangan ilmiah Prof Jacub Rais dkk (2008), Indonesia kaya dalam unsur-unsur geografis. Dihuni oleh bangsa yang merupakan meltingpot dari berbagai suku bangsa, yang kini membentuk suatu bangsa tunggal yang bhineka, kaya akan bahasa dan budaya. Menurut ahli bahasa, terdapat 726 bahasa-bahasa lokal di Nusantara. Ini membuat toponimi sarat dengan nama generik dan nama spesifik dengan muatan sejarah kebudayaan yang tinggi dibanding negara-negara lain di dunia.

Toponimi tak hanya menyangkut nama kampung atau daerah, tapi juga sepotong jalan. Hanya saja, aspek asal-usul jalan mulai ditepikan dalam perbincangan. Lembaran sejarah kolonial merekam runtuhnya kesakralan sebuah jalan. Dalam modernitas kehidupan urban permulaan abad ke XX yang dipelopori toewan-toewan kulit putih, apa yang disebut jalan identik dengan jalur sirkulasi kendaraan bermotor. Bahkan, jalan dimaknai sebagai medan pertarungan identitas dan panggung unjuk kekuasaan, sampai sekarang. Hal itu dapat kita lihat dari upaya suatu institusi mengabadikan nama tokoh atau pahlawan sebagai nama jalan di suatu wilayah, sekalipun si tokoh tidak lahir atau berjasa bagi daerah lokal tersebut. Inilah bentuk nyata dari hegemoni “kisah besar” dari “atas”.

Nama tokoh besar (biasanya berbau militer) ini turut membabat riwayat sejarah, legenda, atau hikayat yang jauh lebih awal menempel pada tubuh jalan. Padahal, nama jalan yang asli ibarat kunci pembuka pengetahuan lokal dan toponim daerah yang menjadi identitas-kebanggaan masyarakat setempat.

Dengan mengerjakan toponimi kampung sekitar, kita sesungguhnya telah membuka gerbang guna menguraikan dan memahami dinamika masyarakat lokal Jawa dan keterkaitannya dengan lokalitas lain dan “dunia luar” umumnya. Termasuk menelusuri asal-usul, perkembangan, gejolak dan keresahan dari perwujudan dan pemikiran budaya Jawa serta memahami sumber daya tahan tradisi lokal. Juga mencari dan menggairahkan kembali sumber-sumber kreativitas lokal. Yang tak kalah pokok, menggali dan memahami local knowledge (pengetahuan lokal) dan local wisdom (kearifan lokal) Jawa yang telah tenggelam terseret arus perubahan yang dipaksakan dari luar khususnya mengenai sikap terhadap lingkungan alam dan hubungan sosial.

Kini, saatnya pemerintah daerah dan orangtua bersama tunas muda bersemangat mendokumentasikan sejarah kampung berikut jalan yang membentang di daerahnya. Makin hari sesepuh kampung yang menjadi penutur asal-usul sejarah daerah makin berkurang karena tak bisa melawan datangnya kematian. Sementara di satu pihak kita mudah didera penyakit amnesia sejarah lantaran tiada dokumentasi keragaman budaya ini. Jangan salahkan generasi mendatang bila “anugerah” Tuhan tersebut satu persatu antri masuk ke liang kubur gara-gara tidak dirawat oleh pemiliknya. (tribunjateng/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved