Laporan Humas Polres Batang

Tuntut Ungkap Kasus Pembunuhan, Warga Gapura Gelar Aksi Tutup Mulut di Mapolres Batang

Puluhan warga Desa Gapura, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, menggelar aksi tutup mulut di Mapolres Batang, Jum'at (7/7/17).

Tuntut Ungkap Kasus Pembunuhan, Warga Gapura Gelar Aksi Tutup Mulut di Mapolres Batang
Istimewa/Humas Polres Batang
Puluhan warga Desa Gapura, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, menggelar aksi tutup mulut di Mapolres Batang, Jum'at (7/7/17). Mereka menuntut polisi segera mengungkap kasus pembunuhan Haniyah, warga setempat. 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Aksi tutup mulut mewarnai kedatangan puluhan warga Desa Gapura, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, di Mapolres Batang, Jum'at (7/7/17). Mereka menuntut kepolisian segera mengungkap kasus pembunuhan Haniyah, warga Batang, yang terjadi Desember 2016.

Koordinator aksi, Amar Makruf (26), mengatakan, aksi tutup mulut tersebut merupakan bentuk tak puas warga terhadap kinerja kepolisian yang dinilai lambat menanganani kasus itu. Sudah setengah tahun lebih, polisi tak kunjung mengungkap dan menangkap pelaku.

“Aksi tutup mulut ini sebagai simbol mulut kami tertutup tetapi hati nurani kami harus tetap melihat. Jangan sampai, kasus ini berlarut-larut,” kata dia.

Sebelum melakukan aksi tutup mulut, warga Gapura telah berupaya mendorong pihak kepolisian mengungkap tersangka dalam kasus itu. Di antaranya, menggelar sumpah pocong yang dilakukan antara keluarga korban dan Haji Mahrusin, majikan Haniyah. Namun, upaya ini batal karena Haji Mahrusin dinilai tak iklas.

Mereka juga telah menyurati presiden, kapolri, Komisi III DPR RI, juga Kontras. Namun, belum ada tindak lanjut.

Paman Haniyah, Khoiron (45), mengatakan, pihak keluarga telah menerima hasil autopsi yang menyatakan Haniyah tewas dibunuh.

Haniyah, ditemukan tewas di garasi rumah majikannya, Haji Mahrusin, Minggu, 4 Desember 2016. Ditemukan luka di kepala, lebam di leher, dan memar di punggung serta pantat.

"Itu pasti dilakukan orang, bukan makhluk gaib. Pada siapa kami menuntut? Tentu kepada Bapak Kapolres dan Kapolsek. Kami mendukung pihak berwajib, khususnya Bapak Kasatreskrim mengungkap kasus ini," ujarnya.

Amar Makruf menambahkan, saat ini, dua anak Haniyah menjadi yatim piatu. Tak ada juga yang menjamin pendidikan dan kehidupan mereka.

“Kami menuntut (diungkap) secepatnya karena di kampung kami, timbul saling memfitnah. Tentu ini membahayakan kerukunan kampung kami,” tukasnya.

Menanggapi aksi tersebut, Kasat Reskrim Polres Batang AKP Suhadi mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. Minimnya bukti dan saksi, diakui Suhadi, menghambat proses ungkap kasus.

"Tapi, kami terus berusaha. Kami sudah mengantongi dua identitas baru yang mendatangi rumah Haji Mahrusin sebelum pembunuhan itu terjadi," akunya.

Menurut Suhadi, dua orang tersebut adalah orang yang mengaku tukang servis televisi. Mereka datang untuk membetulkan televisi di rumah Haji Mahrusin. Setelah dikonfirmasi, Haji Mahrusin mengatakan tak pernah mengundang mereka karena televisi di rumah tak pernah rusak.

“Dua mister X inilah yang sedang kami dalami identitasnya,” ujarnya. (tribun jateng/humas polres batang)

Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved