SIAP-SIAP, Mahasiswa 'Tua' di Undip Bakal Dikejar Dosen Agar Lulus Cepat
Universitas Diponegoro mulai menggencarkan program pemantauan guna antisipasi penumpukan mahasiswa yang saat ini sudah menginjak semester akhir
Penulis: Nur Rochmah | Editor: bakti buwono budiasto
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Nur Rochmah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menjelang tahun ajaran baru 2017/2018, Universitas Diponegoro (Undip) mulai menggencarkan program pemantauan guna antisipasi penumpukan mahasiswa yang saat ini sudah menginjak semester akhir.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip, Prof. Dr. Ir. Muhammad Zainuri, DEA, mengatakan, jika pihaknya sudah menerapkan Sistem Kerja Pegawai (SKP) yang memantau jalannya kegiatan akademisi dan pembimbingan yang dilakukan oleh para dosen di setiap Fakultas.
"Dari SKP yang ada, setiap minggunya kami lakulan evaluasi. Sehingga dari situlah, kami bisa memantau kinerja dari para dosen dari mulai pengajaran di kelas hingga bimbingan untuk mahasiswa tingkat akhir. Jadi dapat dipastikan tak ada yang namanya dosen hilang dari tanggungjawabnya terutama tidak membimbing mahasiwa yang lagi skripsi," kata Zaenuri, pada Tribun Jateng, Senin (10/7/2017).
Ia juga mengakui jika saat ini sistem pembimbingan di Undip sendiri memang belum ideal, faktanya terkadang satu dosen harus menangani anak bimbingan delapan sampai sepuluh mahasiswa untuk satu angkatan yang sama.
Tapi, ia memastikan tahun ini tak ada yang namanya penumpukan mahasiswa tingkat akhir di Undip.
"Untuk sekarang angkatan 2011-2012 masih ada sekitar 20 persen. Dan di tahun ini kami mulai fokus untuk meluluskan angkatan 2013, pasalnya mereka kan biaya kuliahnya pakai sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT), dan sebisa mungkin maksimal lulusnya lima tahun. Makanya kami berusaha agar mereka mendapatkan haknya supaya bisa lulus di tahun ini," tandasnya.
Selain itu, Ketua Jurusan Sastra Jepang, Elizabeth IHANR, S.S, M.Hum, mangatakan, jika ketahuan ada dosen di jurusannya yang mempersulit mahasiswa dalam bimbingan maka akan segera ditangani.
Jika permasalahannya sudah di atas wajar, maka tak segan-sagan akan dikeluarkan surat peringatan SP 1 untuk dosen yang bersangkutan.
"Beberapa dosen kami di Jurusan Sastra Jepang sendiri, sudah mulai memberi target lulus bagi mahasiswa bimbingannya masing-masing. Dan saya sendiri juga selalu berkoordinasi dengam dosen lainnya, jikalau ada permasalahan yang sekiranya perlu penanganan, kami langsung segera memperbaiki sistem yang ada," ujar Elizabeth.
Dari data yang didapatkan tribunjateng.com, jumlah mahasiswa yang kini ada di jurusan khususnya Sastra dan Bahasa Jepang, untuk angkatan tahun 2011 masih ada 5 persen, kemudian angkatan 2012 ada sekitar 25 persen, dan mahasiswa angkatan 2013 ada sekitar 85 persen.
"Untuk tahun ini kami fokus untuk meluluskan angkatan 2013. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk angkatan sebelumnya juga masih tetap kami priotitaskan, meskipun tidak akan sekenceng angkatan 2013, hal ini untuk menghindari mahasiswa supaya tidak di Drop Out (DO). Dan untuk bahan evaluasi lainnya, di tahun ajaran sekarang, di jurusan kami hanya menerima mahasiswa tak lebih dari 30 anak, antisipasi supaya tahun berikutnya dosen pembimbing bisa menangani mahasiswanya sedikit, sehingga kerja dosen pembimbing juga bisa lebih maksimal," paparnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kuliah-umum-di-undip_20170427_204228.jpg)