Penumpang Trans Jateng Kaget Disuruh Bayar Lagi saat Pindah Trans Semarang
Tadi ada penumpang yang transit di Shelter Imam Bonjol kaget disuruh bayar lagi ketika naik Trans Semarang mau ke Mangkang. Saya harap bisa sekali
Penulis: galih permadi | Editor: bakti buwono budiasto
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng yang baru diluncurkan Jumat (7/7/2017) lalu, ternyata mendapat sambutan antusias dari masyarakat.
Bahkan, beberapa bus tampak penuh penumpang, Senin (10/7) meski sudah membayar. Di mana, sebelumnya tiga hari sejak dilaunching gratis.
Seorang penumpang Trans Jateng yang merupakan warga Purwodadi,Grobogan, Aris menyambut baik keberadaan Trans Jateng.
Namun iaberharap tiket Trans Jateng bisa terintegrasi dengan Trans Semarang.
"Tadi ada penumpang yang transit di Shelter Imam Bonjol kaget disuruh bayar lagi ketika naik Trans Semarang mau ke Mangkang. Saya harap bisa sekali bayar, tidak bayar lagi ketika transit. Jadi murah," katanya.
Keberadaan Trans Jateng, lanjut Aris, memudahkannya menuju Stasiun Tawang.
"Jadi tidak perlu lagi naik turun angkutan. Bisa sekali naik langsung sampai," ujarnya.
Hal sama disampaikan Putanti Ika. Warga Banyumanik tersebut tak perlu menggunakan bus biasa dari Sukun-Stasiun Tawang dengan tarif Rp 5.000.
"Kalau Trans Semarang penuh saya biasanya pakai bus biasa. Ini sudah ada Trans Jateng jadi banyak alternatif dan lebih murah," ujarnya yang kali pertama naik Trans Jateng.
Ika berharap ada penambahan bus sehingga penumpang bisa cepat terangkut.
"Trans Semarang saja bus sudah banyak tapi sering penuh.Semoga jumlah bus ditambah lagi ngga cuma 18 bus," harapnya.
Pantauan Tribun Jateng di shelter Stasiun Tawang tampak dua petugas tiket dalam satu shelter yakni petugas dari Trans Semarang dan Trans Jateng.
Namun, Trans Jateng belum memiliki loket pembelian tiket.
Tarif tiket Trans Jateng belum disosialisasikan di shelter.
Petugas tiket Trans Jateng, Marino mengatakan harus lebih "cerewet" lagi menanyakan tujuan penumpang setelah adanya Trans Jateng.
"Dulu penumpang langsung ke loket pembelian tiket karena cuma ada Trans Semarang. Sekarang saya harus sering menanyakan tujuan agar penumpang tidak salah naik. Nanti kami disalahkan. Seharusnya Trans Jateng punya loket sendiri," usulnya.
Calon penumpang pun ada yang menanyakan terkait perbedaan harga tiket terutama untuk buruh.
"Banyak yang tanya kenapa harga tiket tidak disamakan. Saya bingung juga mau menjelaskan. Saya paling jawab beda pengelolaan," tegasnya.
Hendi Siapkan MoU Satu Tiket
Terkait keinginan penumpang dengan satu tiket, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi telah bertemu Gubernur Jawa, Ganjar Pranowo mengenai satu tiket bagi penumpang Trans Jateng yang kemudian naik Trans Semarang atau sebaliknya tetap gratis.
"Mestinya tidak ada persoalan antara Trans Jateng dan Trans Semarang. Hanya saja butuh waktu agar bisa lebih match. Saya sudah minta Pak Gub untuk satu
tiket dan Pak Gub menyetujui untuk dibuat MoU (Memorandum of Understanding/Nota Kesepahaman) mengenai satu tiket tersebut," ujarnya, Senin (10/7).
Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi menargetkan kebijakan satu tiket bisa berjalan satu bulan kemudian. "
Target satu bulan lagi kebijakan satu tiket bisa berjalan. Toh Trans Jateng dan Trans Semarang juga melayani masyarakat Jateng khususnya Kota Semarang," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Muhammad Khadik mengatakan pihaknya sedang menggodok MoU dengan Dishub
Provinsi Jawa Tengah.
"Sedang kami bicarakan kebijakan tersebut. Karena kami ingin memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat sehingga bisa satu tiket penumpang Trans Jateng ke Trans Semarang begitu sebaliknya," ujarnya.
Sementara itu, terkait pengoperasian BRT Trans Jateng, seorang sopir Trans Jateng, Supriyanto menyatakan lancar dalam empat hari pengoperasian.
Hanya saja, ia terkendala macet di beberapa titik yang membuat jarak antarbus terlalu panjang.
"Seharusnya jarak antarbus 10 menit. Karena macet di Gombel Lama dan Jatingaleh, jadi jarak agak jauh," ujarnya.
Sementara itu, Petugas Timer di Shelter Stasiun Tawang, Yoyokmengatakan jarak antar bus di bawah pukul 14.00 yakni 15 menit,sedangkan setelah pukul 14.00 jarak antarbus menjadi 20 menit.
"Jarakantar bus masih segitu karena jalan macet terutama di Gombel Lama danJatingaleh. Kalau sore macet di sekitar Transmart," ujarnya.
Antusias masyarakat, kata Yoyok, cukup tinggi bahkan kadang penumpangmasih memaksa masuk meski seharusnya sudah melebihi kapasitas.
"Waktu saya yang jaga, bus yang melebihi kapasitas 30 penumpang tidak sayaijinkan berangkat. Kami mengutamakan pelayanan dan kenyamananpenumpang. Sampai tengah hari penumpang sudah ratusan lebih," ujarnya.
Adapun petugas tiket, Ratna mengatakan masih banyak penumpang yangbelum mengetahui shelter untuk transit dari Trans Jateng ke TransSemarang.
"Masih banyak yang bingung shelter untuk transit. Jadibanyak yang tanya soal itu. Penumpang lebih banyak naik di Bawenketimbang di Tawang. Kadang ada penumpang memaksakan naik sampaii 45orang dalam satu bus," ujarnya.(tribunjateng/cetak/gpe)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/trans-jateng_20170707_154930.jpg)