Breaking News:

Rasmijan Minta Pemerintah Sediakan Kapal Pemadam

Rasmijan, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pati mengatakan, pemerintah segera memberikan solusi atas yang kejadian kebakaran

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muslimah
Humas Basarnas Jateng
Suasana lokasi kebakatan belasan kapal di Pelabuhan Juwana, Pati, Sabtu (15/7/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Kebakaran yang melanda sedikitnya 14 kapal yang ditambat di sebelah utara Pula Seprapat sulit untuk dipadamkan. Sampai berita ini diturunkan, api masih menyala cukup besar.

Rasmijan, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pati mengatakan, pemerintah segera memberikan solusi atas yang kejadian kebakaran yang terjadi.

"Harapannya pemerintah segera memberikan fasilitas berupa fireboat (kapal pemadam). Mengingat dalam waktu dekat sudah dua kali terjadi kebakaran di Juwana," katanya, Sabtu (15/7/2017).

Keberadaan kapal pemadam, menurut dia, memang sangat dibutuhkan.

"(Kapal pemadam) itu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti saat ini titik api sulit dijangkau pemadam. Terus, para nelayan yang hendak membantu evakuasi pun ketakutan. Karena di setiap kapal ada tangki yang memuat bahan bakar yang bisa saja meledak. Kalau meledak itu kayak bom lho," katanya.

Dia mengaku, dalam mengantisipasi kejadian serupa pihaknya telah memberikan sosialisasi kepada kepala kamar mesin kapal (KKM) yang ada di Juwana. Namun, kata dia, tidak menutup kemungkinan kelalaian terkadang memang tidak bisa dielakkan.

Dia mengaku, saat-saat seperti ini kebanyakan kapal yang ada di Pelabuhan Juwana tidak berlayar. Hal itu karena masing-masing kapal harus diurus kelengkapan surat administrasinya.

"Jadi harus diurus dulu surat-suratnya baru bisa berlayar. Seperti SPB (Surat Persetujuan Berlayar da dan SLO (Surat Laik Operasi)," kata dia.

Disela-sela menunggu keluarnya surat legalitas untuk berlayar, tambah Rasmijan, banyak pemilik kapal yang membenahi kondisi fisik kapal.

"Nha saat itu biasanya ada yang di las. Itu yang rawan. Karena di kapal banyak benda yang mudah terbakar, seperti tiner, dan bahan bakar lainnya," kata dia.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved