Ratusan Perawat Demak Demo Minta Diangkat Jadi ASN

Sebanyak 45 perawat perwakilan tiap-tiap Puskesmas dan Rumah Sakit se Kabupaten Demak berangkat ke Jakarta untuk menggelar aksi damai di depan Istana

Ratusan Perawat Demak Demo Minta Diangkat Jadi ASN
tribunjateng/rival almanaf
Pria yang enggan menyebutkan namanya mengacungkan jari dan berbicara dengan nada tinggi di hadapan perawat Kabupaten Demak yang akan berangkat aksi ke Jakarta. 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Sebanyak 45 perawat perwakilan tiap-tiap Puskesmas dan Rumah Sakit se Kabupaten Demak berangkat ke Jakarta untuk menggelar aksi damai di depan Istana Negara Jakarta, Rabu (19/7).

Sebelum berangkat mereka berkumpul di Terminal Demak untuk berkoordinasi terlebih dahulu pada Selasa (18/7) sore. Sembari membawa spanduk dan poster mereka melakukan pemanasan orasi.

Koordinator lapangan, Perawat Demak, Muhibbin, dalam orasinya menyampaikan perawat menuntut diangkat menjadi pegawai negeri sipil. "Saat ini kami sistemnya kontrak dan hanya per tahun baru diperpanjang, kami ingi undang-undang ASN direvisi," jelasnya.

Meski membawa perawat yang bekerja di instansi pemerintah, ia memastikan pelayanan kesehatan akan tetap berjalan. "Yang berangkat ini hanya perwakilan, di Kabupaten Demak ada 251 perawat dan yang berangkat hanya 45 orang saja," bebernya.

Perawat di Puskesmas Guntur 1 itu menambahkan di Jakarta kelompoknya akan bergabung dengan perwakilan daerah lain mualai dari Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Diprotes warga

Saat asyik berorasi tiba-tiba ada pria tiba-tiba berbicara dengan nada tinggi sembari mengacung-acungkan tangannya di hadapan para perawat di Kabupaten Demak, Selasa (18/7).

Peristiwa itu terjadi setelah sesi wawancara awak media dengan koordinator lapangan aksi damai perawat rombongan Demak, Muhibbin yang akan berangkat ke Jakarta.

Dalam sesi wawancara, Muhibbin sempat berujar bahwa jika aksi nantinya tidak mendapat tanggapan akan menggelar aksi yang lebih besar.

"Kalau aksi yang lebih besar lagi tidak ditanggapi, bisa juga nanti teman-teman mogok kerja," jelasnya. Mendengar perkataan tersebut pria paruh baya dengan kaus cokelat dan topi hitam yang menyaksikan sontak memotong wawancara dengan nada tinggi.

"Perawat ndak boleh mogok, ini urusannya dengan nyawa manusia, urusan mobil, bengkel aja gak boleh mogok ini urusan manusia kok mogok," ujar pria yang enggan menyebutkan namanya tersebut.

Mendengar tanggapan masyarakat tersebut, Muhibbin mencoba menjelaskan dengan nada yang pelan. "Maksudnya begini bapak, kalau berkali-kali aksi kami nanti nggak ada tanggapan baru kami akan mogok," tambahnya.

Namun, warga tersebut tetap berteriak, "Nggak bisa perawat nggak boleh mogok," tegasnya.
Ketika ditanya alasan oleh para awak media pria tersebut justru menghindar dan pergi. Keributan itupun berangsur reda sehingga para perawat bisa segera berangkat ke Jakarta. (tribunjateng/cetak/val)

Penulis: rival al-manaf
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved