Warga Disabilitas Minta Sosialisasi Pemilu Disertai Praktik
Pelaksanaan sosialisasi pemilu akses dirasa kurang efektif tanpa praktik. Hal ini diungkapkan Indra Kurniawan, peserta sosialiasi tuna netra.
Penulis: Nur Rochmah | Editor: rika irawati
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Nur Rochmah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pelaksanaan sosialisasi pemilu akses dirasa kurang efektif tanpa praktik. Hal ini diungkapkan Indra Kurniawan, peserta sosialiasi tuna netra.
"Kendala-kendala saat melakukan pemilihan di pilkada biasanya dialami disabilitas pemula dan lansia. Oleh karena itu, saya berharap, setiap ada sosialisasi terkait pemilu akses bisa ditambah praktik langsung," kata Indra, Sabtu (22/7/2017).
Indra mencontohkan, tak semua tuna netra bisa membaca huruf brille. Begitu juga lansia yang memiliki keterbatasan daya ingat. "Kalau sosialisasi dilakukan hanya lewat lisan, orangtua akan cepat lupa begitu keluar dari ruangan. Kan sayang kalau hak pilih mereka terbuang sia-sia hanya karena tidak paham mengenai pemilu ini," imbuhnya.
Indra secara pribadi telah mengikuti lima kali pemilu. Dia menilai, fasilitas TPS akses di dekat rumahnya membaik dari waktu ke waktu.
Hanya saja, ia mengatakan, saat pemilihan legislatif beberapa waktu lalu, ukuran kertas yang digunakan atau templete brille sangat lebar sehingga dia kesulitan memilih.
"Akibatnya, waktu yang saya butuhkan jadi lama dan butuh pendamping. Tentu ini kurang efisien," kata Indara yang mengaku beberapa kali dipengaruhi pihak luar saat akan melakulan pencoblosan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pelatihan-panduan-pemberitaan-pemilu-akses_20170722_223126.jpg)