FOCUS

Ngesti Iseng Sendiri

Malam itu, saya sengaja nongkrong, sembari menyeruput kopi di teras Gedung Ki Narto Sabdho, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Ngesti Iseng Sendiri
tribunjateng/yayan isro roziki
Liputan khusus: Geliat Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang 

Para penonton Ngesti. Satu, dua, tiga...

Ahai, tak butuh waktu sepuluh menit saya melakukan kegiatan iseng itu.

Orang-orang yang semula duduk di kursi penonton sudah keluar semua dari gedung.

Berapa jumlahnya? Sekitar 50 orang.

Jumlah yang terbilang lumayan, dibandingkan "masa-masa suram" Ngesti Pandowo.

Pada titik nadir, jumlah penonton Ngesti Pandowo pernah kurang dari jumlah jari tangan.

Tak lebih dari separuh anak wayang plus niyaga, yang memainkan pertunjukan.

Padahal, pada masa keemasannya, pada periode 1954 hingga pertengahan 1980-an, ketika menempati Gedung GRIS, di Jalan Pemuda, Semarang--kini Mal Paragon--penonton harus memesan tempat duduk, untuk bisa menonton Ngesti Pandowo.

Ketika itu, ada pameo, mengunjungi Semarang tanpa menonton Ngesti Pandowo sungguh suatu kerugian.

Ngesti Pandowo menjelma ikon budaya sekaligus trademark Kota Semarang.

Halaman
1234
Penulis: achiar m permana
Editor: bakti buwono budiasto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved