FOCUS

Ngesti Iseng Sendiri

Malam itu, saya sengaja nongkrong, sembari menyeruput kopi di teras Gedung Ki Narto Sabdho, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Ngesti Iseng Sendiri
tribunjateng/yayan isro roziki
Liputan khusus: Geliat Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang 

Begitulah, para anak wayang Ngesti Pandowo telah berusaha keras untuk mempertahankan denyut nadi kelompok yang berdiri di tengah riuh Pasar Malam Maospati, Madiun, pada 1 Juli 1937.

Diam-diam.

Tentu saja, sekuat, dan sebisa mereka.

Saya kira, para founding fathers Ngesti Pandowo--Sastro Sabdo, Darso Sabdo, Narto Sabdo, Sastrosoedirjo, serta Kusni--bisa tersenyum di kubur mereka, atas pencapaian usia 80 tahun kelompok yang mereka dirikan.

Tak bisa menumpukan beban hanya pada Ngesti Pandowo.

Untuk menjaga denyut selama delapan dekade (!), dengan istikamah berpentas, terang bukan hal gampang.

Untuk soal itu, Ngesti sudah (sangat) berhak mendapatkan acungan jempol, atau bahkan standing ovation.

Tentu saja, tanpa menafikan keniscayaan, bahwa, kelompok itu perlu berinovasi, demi mengikuti "selera" penonton terus berkembang.

Jika memang, Ngesti tidak ingin ditinggalkan pandhemen-nya dalam kesepian.

Namun, yang tidak kalah penting, peran para pemangku kepentingan--ya, kita semua--untuk menjaga agar panggung Ngesti Pandowo tetap hidup.

Halaman
1234
Penulis: achiar m permana
Editor: bakti buwono budiasto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved