FOCUS

Ngesti Iseng Sendiri

Malam itu, saya sengaja nongkrong, sembari menyeruput kopi di teras Gedung Ki Narto Sabdho, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang.

Ngesti Iseng Sendiri
tribunjateng/yayan isro roziki
Liputan khusus: Geliat Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang 

Agar lampu di Gedung Ki Narto Sabdho tidak perlahan redup.

Pemerintah Kota Semarang, saya kira, perlu melihat ke dalam, apakah sudah berperan seperti semestinya dalam turut menjaga denyut nadi Ngesti Pandowo.

Selama ini, Pemkot kerap "membanggakan" kelompok tersebut sebagai identitas, bahkan ikon seni tradisional Kota Semarang.

Salah satu yang menjaga peradaban ibukota Provinsi Jawa Tengah.

Namun, apakah kebanggaan itu sudah tumus pada kebijakan, yang bisa membuat napas Ngesti Pandowo lebih panjang? Adakah langkah, kebijakan, atau apa pun namanya, dari Pemkot Semarang, yang mendukung kelompok kesenian itu? Yang nyata? Yang bukan (sekadar) retorika?

"Pemerintah berjanji akan memberikan ruang gerak bagi pelaku seni untuk berkreasi di Kota Semarang. Kesenian adalah hal yang penting dalam pembangunan sebuah kota. Tanpa adanya kesenian kota terasa gersang," kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, pada suatu ketika.

Di sisi lain, adakah dukungan para pengusaha, pelaku bisnis, yang mengais rezeki di Kota Semarang terhadap Ngesti Pandowo? Katakanlah, adakah perusahaan yang mengucurkan dana corporate social responsibility (CSR) dalam jumlah yang signifikan untuk menambah vitalistas Ngesti? Atau, adakah pengusaha yang bermurah hati, membayar tiket bagi ratusan karyawan mereka untuk menonton pentas wayang orang di Gedung Ki Narto Sabdho?

Dalam skala yang lebih sederhana, apakah kita--sebagai pribadi-pribadi--pernah meluangkan waktu untuk mengajak keluarga, bertandang ke Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), menunjukkan empati pada kesenian tradisional, dengan menonton Ngesti Pandowo? Berapa kali?

Ketika menuliskan deretan pertanyaan itu, tiba-tiba saya jadi lingsem sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan itu serasa tudingan telunjuk yang mengarah ke jidat saya sendiri. Aduh!

Hanya dengan dukungan kita semua, Ngesti Pandowo akan bisa mempertahankan keberadaannya.

Memperpanjang napasnya. Dukungan kita yang akan memetri, bukan sebaliknya, membiarkan "memet" tanpa arti.

Tanpa itu, Ngesti Pandowo tak lebih dari--meminjam ungkapan penyair Chairil Anwar--"gadis manis, sekarang iseng sendiri".

Bergerak dalam sunyi, terlupakan, dan kemudian redup sendiri. (Achiar M Permana)

Penulis: achiar m permana
Editor: bakti buwono budiasto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved