Bullying di Sekolah

Kak Seto Desak Pembentukan Satgas Perlindungan Anak

"Makanya untuk mengatasi masalah itu, perlu adanya satgas perlindungan anak atau anti-bullying di sekolah yang bisa menjadi gerakan nasional,"

Kak Seto Desak Pembentukan Satgas Perlindungan Anak
YOUTUBE
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau Kak Seto 

TRIBUNJATENG.COM - Kasus perundungan atau bullying terus menjadi sorotan. Setelah kasus bullying dan penganiayaan yang menimpa siswi kelas 6 SD di Thamrin City, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu, kini giliran siswi kelas 4 SD di Kudus juga mengalami hal serupa.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi sempat menyatakan, pembentukan satuan tugas (satgas) perlindungan anak atau anti-bullying di sekolah harus segera dilakukan.

Dalam beberapa waktu terakhir, menurut dia, kasus perundungan atau bullying terus terjadi di beberapa daerah. "Kasus bullying ini seperti fenomena gunung es," ucapnya, di Brebes, Jateng, baru-baru ini.

Kak Seto, sapaannya, menuturkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan, angka bullying sangat tinggi di Indonesia, terutama di lingkungan sekolah. "Saya tegaskan, bullying ini tidak ada manfaatnya. Setop bullying," katanya.

Sejauh ini, dia menambahkan, kurang ada tindakan tegas untuk meredam aksi perundungan di sekolah. "Makanya untuk mengatasi masalah itu, perlu adanya satgas perlindungan anak atau anti-bullying di sekolah yang bisa menjadi gerakan nasional," jelas Kak Seto.

Satgas itu, menurut dia, nantinya dibentuk dengan melibatkan guru, kepala sekolah, dan orangtua. Sehingga, akan ada pelapor dan kerja sama jika ada kasus perundungan.

Kak Seto berujar, kepada siapa saja yang cuek atau mendiamkan kasus bullying, ada konsekuensi yang harus diterima. "Jika ada yang membiarkan, ada sanksi pidana lima tahun penjara," jelasnya.

Ia pun mengaku prihatin kasus perundungan terus terjadi karena adanya pembiaran, baik oleh guru, orangtua, kepala sekolah, bahkan Dinas Pendidikan.

Bahkan, kasus perundungan kerap terjadi karena tidak adanya komunikasi yang efektif dalam keluarga, sementara di sekolah, komunikasi antara siswa dan guru tidak lancar.
"Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Jika dibiarkan, akan berdampak buruk kepada pertumbuhan jiwa anak," paparnya.

Kak Seto mengungkapkan, pada dasarnya pelaku bullying yang masih siswa sekolah itu tidak mendapatkan fasilitas cukup untuk mengasah potensinya.

"Mereka sebenarnya anak-anak yang sangat potensial. Pihak sekolah bisa memberikan ruang bebas untuk mereka berekspresi. Misal, lebih mengaktifkan ruang musik dan seni," urainya.
Menurut dia, pelaku bullying melakukan aksinya terhadap teman-teman lain karena memiliki rasa kecemburuan, seperti nilai dan prestasi yang mungkin masih kalah.

Mereka juga punya perasaan kurang percaya diri dan rendah diri."Dengan diberikannya ruang seni yang bebas di sekolah diharapkan bisa membuat mereka (pelaku bullying-Red) makin percaya diri. Bakat mereka mungkin saja bisa tumbuh," lanjutnya. (tribunjateng/cetak/mam)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved