Warga Tegal Ingin Menyetrum Celeng, Eh Malah Kerbau yang Kena Sampai Mati, Begini Ceritanya
Akhir- akhir ini warga Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal diresahkan dengan serangan babi hutan atau celeng yang menyerang lahan pertanian
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: bakti buwono budiasto
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto
TRIBUNJATENG.COM, SLAWI- Akhir- akhir ini warga Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal diresahkan dengan serangan babi hutan atau celeng yang menyerang lahan pertanian milik warga.
Beberapa kali warga juga melihat hewan berbulu itu masuk ke pemukiman pada malam hari.
Koordinator Asosiasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kabupaten Tegal, Karomallah, menyatakan kawanan babi hutan itu sudah menyerang hektaran lahan pertanian sebulan terakhir ini.
"Babi hutan turun ke pemukiman warga dan merusak lahan pertanian dimungkinkan karena musim kemarau. Di hutan tidak ada makanan sehingga turun," kata Karomalloh, Selasa (1/8/2017).
Mereka keluar dari sarang dan mencari makan ke lahan pertanian warga.
Untuk luasan lahan pertanian yang rusak, dia belum bisa memberikan lantaran masih didata.
Menurutnya, serangan celeng tidak hanya di Desa Tembongwah Kecamatan Balapulang, namun di beberapa desa dan kecamatan lain.
Desa-desa yang diserang binatang nenek moyang babi ternak tersebut antara lain Tembongwah, Cilongok, dan Danareja di Kecamatan Balapulang. Serta di Desa Mokaha dan Kedungwungu di Kecamatan Jatinegara.
"Babi hutan menyerang tanaman milik warga setempat. Mereka merusak tanaman singkong, jagung, dan padi," jelas Karom yang juga Sekretaris Desa Tembongwah.
Serangan babi hutan, kata dia, selalu terjadi setiap tahunnya. Akibatnya, banyak petani yang trauma menanam tanaman pertanian karena berulangkali tak bisa panen dirusak celeng.
Karena saking geramnya dengan ulah binatang pemakan segala itu, warga setempat sempat melakukan berbagai upaya untuk menghalaunya.
Yakni dengan cara membuat pagar bambu serta memburunya. Cara ekstrem juga dilakukan dengan memasang perangkap berupa kabel yang dialiri listrik.
"Memasang perangkap kabel listrik memang dinilai efektif membasmi babi hutan, beberapa tewas terkena perangkap. Namun pernah juga salah sasaran, yang terperangkap justru kerbau milik warga, sehingga kerbau mati," terangnya.
Karom berharap pemerintah bisa turun tangan untuk membantu petani dalam mengatasi serangan babi hutan tersebut.
Sebab, ada kecenderungan serangan binatang tersebut semakin meraja lela dari tahun ke tahun karena tidak adanya penanganan yang efektif.
"Kami berharap dinas terkait bisa ikut memberikan solusi atau penanganan. Para petani semakin resah karena lahan pertanian mereka rusak terus," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/terancam-punah-populasi-kerbau-di-indonesiai-tinggal-1-juta-ekor_20151119_185433.jpg)