Lagu Tepuk Anak Saleh Dipersoalkan, Ini Penyebabnya
Lagu Tepuk Anak Saleh yang biasa dinyanyikan sebagian anak-anak pada jenjang Pendidikan PAUD) dan Taman Kanak-Kanak sedang ramai diperbincangkan
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki
TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Lagu Tepuk Anak Saleh yang biasa dinyanyikan sebagian anak-anak pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak sedang ramai diperbincangkan.
Masalahnya, sejumlah pihak menganggap ada lirik dalam lagu itu bermakna intoleran.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas Muhammad Raqib menandaskan, setiap kata memiliki arti atau pesan dalam bahasa ujaran.
Demikian halnya, kata dalam syair lagu menyiratkan pesan, baik bagi orang yang menyanyikan maupun pendengar.
Raqib berpandangan, tidak semua lirik dalam lagu tersebut bermasalah.
Syair yang dipersoalakan pada lagu itu hanya ada pada bait akhir yang berbunyi, Islam Yes Kafir No.
Raqib pun mempertanyakan alasan penciptaan lirik tersebut hingga mengandung kata kafir.
"Kenapa sih, lagu tepuk hingga mengaitkan dengan orang kafir segala,"katanya, Selasa (2/8).
Penyebutan kafir dalam syair lagu berpotensi mengundang masalah.
Bahasa kafir dalam sosiologi dinilainya tak enak didengar. Dalam konteks hubungan sosial, penggunaan bahasa itu berpotensi mengancam keberagaman lantaraan bisa menyinggung orang yang berbeda keyakinan.
Raqib menyebut, tidak ada seorang pun yang rela dipanggil dengan sebutan kafir. Meskipun, dari segi akidah orang yang memanggil, seorang itu benar masuk kategori kafir.
"Jika kita memanggil orang beda keyakinan dengan sebutan kafir, dia pasti akan marah. Sama halnya jika kita memanggil orang buta dengan sebutan si buta, pasti dia akan marah dan merasa tersinggung. Meskipun dia memang buta,"katanya
Raqib mengecualikan, pembahasan kafir boleh saja diungkit ketika berada di ruang kajian.
Dalam pengajaran ilmu tauhid atau akidah semisal, penyebutan kata kafir sah-sah saja untuk keperluan kajian keilmuan dan penguatan akidah.
Sementara lagu tepuk anak saleh, menurut Raqib, berada di luar konteks kajian keilmuan, melainkan masuk ke ranah hubungan sosial.
"Bahasa kafir dalam konteks hubungan sosial kurang nyaman. Kecuali jika itu masuk ranah kajian," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-paud_20160718_174426.jpg)