Agar Harga Tembakau Lokal Stabil, Ganjar Usul Perlu Kontrol Tembakau Impor
wal Agustus 2017 ini, para petani lereng Gunung Merapi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mulai panen tembakau
Penulis: m nur huda | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda
TRIBUNJATENG.COM, BOYOLALI - Awal Agustus 2017 ini, para petani lereng Gunung Merapi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mulai panen tembakau. Biasanya, ketika musim panen akan muncul persoalan harga yang tidak stabil.
Menurut Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, perlu ada komunikasi sejak awal antara petani tembakau dengan pihak tengkulak atau pabrik rokok. Sehingga harga bisa disepakati sejak awal, dan saat panen harganya tidak fluktuatif.
Hal itu diungkapkan Ganjar saat hadir dalam Ritual Petik Daun Tembakau dalam rangkaian acara Festival Tungguk Tembakau di Desa Senden, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Kamis (3/8/2017).
"Saya pernah fasilitasi, kalau bisa dikomuniksikan sejak awal berembug maka harga bisa stabil," ujarnya.
Menurutnya, sampai saat ini memang belum ada formula yang bisa dilakukan untuk mengontrol harga tembakau. Yang bisa dilakukan adalah jika kebutuhan tembakau nasional bisa dihitung dan musim panen bisa diprediksi, maka kebijakan impor tembakau bisa dikendalikan.
"Maka yang dilakukan untuk tembakau impor adalah mengontrol kapan masuknya, usulan saya kalau harganya biar bisa bagus, habiskan dulu tembakau lokal baru impor boleh masuk, itu insya Allah nanti harganya bagus. Tapi itu butuh komitmen dari pabrikan," katanya.
Dari hasil pembahasan dengan Pansus RUU Pertembakauan di DPR RI, memang kebutuhan tembakau dalam negeri masih kurang. Namun untuk impor perlu ada pembatasan, misalnya impor hanya 20 persen dan selebihnya harus dari dalam negeri.
Jika produksi dalam negeri belum mencukupi, maka boleh impor syaratnya semua tembakau petani harus sudah terjual semua.
Terkait musim panen tembakau, Ganjar yang dijuluki Senopati Tembakau Jawa Tengah itu berharap cuaca terus cerah agar tembakau hasilnya bisa maksimal.
"Kemudian kapan dibelinya dan harganya berapa, ini saatnya komunikasi antara petani dengan pabrikan, sehingga hasilnya bisa optimal, nilai tukar petani dalam konteks tembakau bisa baik," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ganjar_20170803_142606.jpg)