Penyaluran Kredit Wibawa Pemkot Semarang Didominasi Sektor Pedagangan

Sementara nasabah dari sektor lain, jumlahnya jauh lebih kecil. Seperti dari sektor jasa hanya 9,7 persen, sektor koperasi 1,1 persen dan sektor pendi

Penyaluran Kredit Wibawa Pemkot Semarang Didominasi Sektor Pedagangan
tribunjateng/dok
ILUSTRASI UANG RUPIAH 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Realisasi kredit Wirausaha Bangkit Jadi Jawara (Wibawa) didominasi dari kalangan pedagang. Tercatat, penyaluran kredit dengan bunga 3 persen setahun itu 88,1 persen nasabah dari sektor perdagangan.

Sementara nasabah dari sektor lain, jumlahnya jauh lebih kecil. Seperti dari sektor jasa hanya 9,7 persen, sektor koperasi 1,1 persen dan sektor pendidikan juga hanya 1,1 persen.

"Banyak peminatnya, terutama dari pedagang. Jumlah nasabah kredit ini sudah 500-an yang masuk Bapas (Bank Pasar--red). Kredit Wibawa ini ide yang bagus dari Walikota untuk membantu masyarakat menengah ke bawah yang butuh modal," kata Direktur Utama PD BPR Bank Pasar Kota Semarang, Adi Retno Widi Andayani, Jumat (4/8/2017).

Retno memaparkan, kredit Wibawa disalurkan melalui dua skema yaitu tanpa agunan dan pakai agunan. Nasabah yang tidak memakai agunan akan mendapat pinjaman maksimal Rp 5 juta, sedangkan jika pakai agunan pinjaman maksimal Rp 50 juta.

Untuk meningkatkan penyaluran kredit tersebut, Retno mengatakan, pihaknya banyak melakukan promosi dengan menyebar brosur kredit Wibawa di wilayah-wilayah sekiranya banyak pedagang kecil yang butuh modal.

"Kami punya program sendiri tiap seminggu 2 kali sebar brosur kredit Wibawa ke pasar-pasar dan daerah yang banyak pedagang kecil," paparnya.

Dijelaskannya, untuk syarat pengajuan kredit melalui Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang. Setelah dilakukan verifikasi, kemudian nasabah mengurus permohonan di PD BPR Bank Pasar.

"Di Bapas, kami lakukan BI checking. Kalau datanya bersih tidak muncul tunggakan kredit di bank lain, prosesnya lanjut. Tapi kalo datanya dari BI merah yang artinya banyak tunggakan kredit di bank lain, kami punya wewenang untuk menolak pemberian kreditnya," jelasnya.

Dikatakan, hal itu dilakukan karena penerima kredit Wibawa harus nasabah yang benar-benar bertanggungjwb dengan pengembalian kreditnya. Sehingga, tidak menimbulkan kredit bermasalah atau non-performance loan (NPL) setelah penyaluran.

"Sampai saat ini, penyaluran kredit Wibawa belum ada NPL-nya. Selain program masih baru, nasabah juga merupakan bertanggungjawab untuk setorannya," tandasnya. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved