OPINI

Nasionalisme Alas Kaki

Opini ini ditulis oleh Miftahul Arifin, Mahasiswa Pascasarja Tasawuf Ethic UIN Walisongo Semarang.

Nasionalisme Alas Kaki
TRIBUN JATENG/GRAFIS/BRAM
Ilustrasi Sandal Jepit 

Opini ini ditulis oleh Miftahul Arifin, Mahasiswa Pascasarja Tasawuf Ethic UIN Walisongo Semarang.

TRIBUNJATENG.COM - Kecaman bangsa Indonesia atas kesalahan pemasangan bendera merah putih dalam buku panduan Sea Games 2017 menujukkan bahwa rasa nasionalisme bangsa masih ada. Disengaja atau tidak, kesalahan panitia even bergengi se Asia Tenggara itu memang boleh dibilang melukai hati masyarakat tanah air. Seperti diungkapkan Presiden Joko Widodo pemerintah Malaysia selaku tuan rumah perlu minta minta maaf. Sebab, kesalahan berkaitan simbol negara. Itu artinya berkaitan langsung dengan seluruh bangsa. Dalam pernyataanya kepada media, presiden juga mengaikan kesalahan ini dengan nasionalisme.

Sejauh ini kita memang belum tahu pasti apakah pemasangan bendera secara terbalik merupakan kekhilafan, ketledoran atau justru kesengajaan. Namun, kita bisa melihat bahwa tanggapan telah mengalir deras di media sosial. Sebagian menilai kesalahan bukan karena unsur kesengajaan, dan mereka menilai pemerintah Malaysia perlu minta maaf.

Kedua, dinilai sengaja. Pasalnya, Sea Games merupakan even besar, bagaimana mungkin panitia tidak teliti memasang lambang negara. Kecaman makin datang bertubi-tubi terutama setelah atlet Sepak Takraw terpaksa walk out sebelum pertandingan usai setelah wasit dinilai kurang fair: curang.

Miftahul Arifin, Mahasiswa Pascasarja Tasawuf Ethic UIN Walisongo Semarang.
Miftahul Arifin, Mahasiswa Pascasarja Tasawuf Ethic UIN Walisongo Semarang. (TRIBUN JATENG)

Terlepas dari unsur sengaja atau tidak, insiden yang mewarnai Sea Game 2017 ini setidaknya memiliki dampak tersendiri bagi bangsa Indoensia di dalam negeri dan bagi hubungan kedua negara. Kesalahan bisa memicu ketengangan antarakedua negara yang jika tidak disikapi arif oleh pemerintah Malaysia. Di sisi lain, kesalahan itu telah menjadi sedikit tropong untuk melihat sikap nasionalisme bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia ramai-ramai membela negaranya yang seolah-olah diinjak-injak negara lain.

Nasionalisme, menurut Otto Bauar, suatu persatuan perangai atau karakter yang timbul karena perasaan senasib. Secara historis, nasionalime bangsa Indonesia selaras dengan pengertian Otto, di mana bangsa Indonesia memang lahir dari penderitaan yang panjang karena ditindas bangsa asing, penjajah bumiputra.

Kemerdekaan Indonesia sudah menginjak usia 72 tahun masih terlalu dini menghapus ingatan kekejaman para penjajah. Kemarahan bangsa Indonesia atas kesalahan pemasangan bendera boleh jadi bagian dari menolak lupa dan sikap teguh membela negara. Bahwa bangsa Indonesia tak mau kembali dinjak-injak bangsa asing.

Sikap bangsa Indonesia atas Malaysia sekaligus menjadi petunjuk akan kualitas nasionalisme bangsa. Polemik dalam negeri yang tak kunjung surut bahkan menyentuh berbagai lini kehidupan kebangsaan belakangan ini menunjukkan kualitas nasionalisme bangsa rendah. Rasa cinta terhadap tanah air belum berporos pada nilai-nilai filosofis ungkapan Bung Karno: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”.

Bangsa Indonesia terkesan masih merasa nikmat jalan kaki dari pada naik kendaraan. Bangsa Indonesia masih gemar bermain otot dari pada menggunakan pikiran cerdas: cerdas hidup berbangsa dan memandang masalah kebangsaan. Sedangkan standar nasionalimse masih dalam fase lahir, dan belum menyentuh batin bangsa. Mirip alas kaki diinjak hanya untuk melindungi kepentingan si pemakai.

Mental Pejabat Elite

Halaman
12
Editor: bakti buwono budiasto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved