Guru yang Memukul Siswa SMAN 6 Semarang Itu Langsung Dipecat

Pihak SMA Negeri 6 Semarang merespon cepat kasus pemukulan yang menimpa anak didiknya. Sang pelatih basket berinisial G, yang melakukan pemukulan terh

Guru yang Memukul Siswa SMAN 6 Semarang Itu Langsung Dipecat
tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas
Plt Kepala SMA Negeri 6, Titi Priyatuningsih 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pihak SMA Negeri 6 Semarang merespon cepat kasus pemukulan yang menimpa anak didiknya. Sang pelatih basket berinisial G, yang melakukan pemukulan terhadap siswa berinisial S, langsung dipecat oleh pihak sekolah.

Plt Kepala SMA Negeri 6, Titi Priyatuningsih, menerangkan permasalahan tersebut telah selesai. Kejadiannya pada 2 Agustus 2017 sore. "Saya aslinya tidak mau kasus ini diungkap media karena masalahnya sudah selasai," tuturnya, Selasa (29/8), sambil menunjukkan surat pemecatan.

Menurutnya, guru pelatih basket G telah diberhentikan dan tidak melatih di SMA Negeri 6 lagi sejak 7 Agustus 2017 lalu. Saat dimediasi, lanjutnya, kedua belah pihak mengakuinya. Menurutnya, kejadian tersebut karena adanya sebab akibat.

"Saya mengambil kesimpulan G sebagai pelatih salah. Apapun yang terjadi mestinya tidak boleh mukul. Begitu juga S sebagai siswa tidak boleh seperti itu. Tetap harus hormat kepada guru, siapapun itu," terangnya.

Titi berpikir permasalahan tersebut telah selesai dan korban mulai sekolah. Namun pada hari Kamis (24/8) pelatih basket tersebut datang menyaksikan latihan basket.

"Saya klarifikasi katanya hanya nonton karena tim basket mau tanding. Tapi pelatih sudah tidak ada hubungan kerja. Namun korban memotret pelatih tersebut dan dibawa pulang ke rumah. Orangtua korban menganggap dirinya tidak serius," katanya.

Dia menganggap selama ini telah memenuhi prosedur. Pihaknya sudah melapor ke Dinas Pendidikan Provinsi. " Waktu itu saya melapor secara lisan karena laporan tertulisnya masih dibuat. Waktu itu kepala Dinas masih di Australia. Laporan baru saya serahkan hari Senin," jelasnya.

Menurut Titi, korban sejak hari Kamis lalu hingga saat ini tidak pernah berangkat sekolah tanpa alasan. Saat dirinya dipanggil ke dinas, orangtua korban menyatakan trauma sekolah di SMA 6 dengan alasan di-buly oleh teman-temannya.

"Katanya gurunya tidak pernah senyum lagi. Kalau guru-guru di sini tidak care dan tidak perhatian, itu tidak benar," terangnya.

Ia membantah jika sekolah tidak memperhatikan korban. Menurutnya, kejadian itu didramatisir. "Ujung-ujungnya siswa itu minta dipindah sekolahnya," jelasnya. (tribunjateng/cetak/rtp)

Penulis: rahdyan trijoko pamungkas
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved