Samsung Resmikan Samsung Tech Institute di 20 SMK di Jawa Timur
PT Samsung Electronics Indonesia meresmikan program Samsung Tech Institute di 20 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jawa Timur
Penulis: m zaenal arifin | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin
TRIBUNJATENG.COM, SURABAYA - PT Samsung Electronics Indonesia meresmikan program Samsung Tech Institute di 20 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jawa Timur.
Program tersebut sekaligus mendukung pendidikan vokasi industri dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Melalui program tersebut, Samsung memberikan peralatan dan pelatihan dasar elektronika kepada para siswa dengan tujuan untuk memperkaya kurikulum di SMK demi menciptakan lulusan yang semakin berkualitas yang dapat diserap langsung oleh industri.
"Program ini selaras dan mendukung upaya pemerintah dalam merealisasikan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang revitalisasi SMK serta program Kemenperin tentang pendidikan vokasi industri," kata Vice President Corporate Affairs PT Samsung Electronics Indonesia, Kang Hyun Lee, Rabu (30/8/2017).
Peresmian tersebut ditandai penandatanganan MoU kerjasama antara Samsung dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan 20 Kepala SMK Jawa Timur di Dyandra Convention Center Surabaya, Selasa (29/8/2017) kemarin.
Dengan kerjasama ini, menambah jumlah program Samsung Tech Institute menjadi 26 di Indonesia. Selain 20 SMK di Jawa Timur, Samsung Tech Institute saat ini telah ada di enam area di Indonesia, yaitu Cikarang, Jakarta, Medan, Makassar, Banjarmasin dan Kendal (Jawa Tengah).
Lee menuturkan, Samsung berkomitmen untuk berkontribusi dalam kemajuan pendidikan Indonesia. Hal tersebut diwujudkan tahun ini melalui program Samsung Tech Institute yang berkolaborasi dengan institusi pendidikan formil yaitu SMK, agar hasilnya semakin terlihat nyata dan sejalan dengan program milik pemerintah.
"Industri membutuhkan keterampilan yang semakin tinggi. Saya yakin para lulusan SMK dapat menjadi tenaga kerja yang lebih siap kerja dan menang dalam persaingan di dunia kerja," ujarnya.
Menurutnya, kualitas tenaga kerja yang siap kerja tentunya akan meningkatkan daya saing industri Indonesia sehingga menghasilkan lebih banyak Iapangan kerja dan secara jangka panjang berimbas pada peningkatan pendapatan masyarakat.
Pada program Samsung Tech institute ini Samsung menyediakan kurikulum pelatihan perbaikan telepon selular yang sejajar dengan keterampilan dasar yang ditetapkan oleh Samsung Service Center. Khusus untuk SMK sebagai Samsung Tech Institute percontohan di Jawa Timur, kurikulum yang diberikan juga mencakup perbaikan audio video dan home appliances seperti TV, kulkas, AC dan mesin cuci.
Untuk para guru, Samsung memberikan program pelatihan dalam bentuk train the trainer dan pelatihan IT yang dilakukan secara berkala agar para guru dapat mengoptimalkan teknologi untuk proses belajar yang lebih efektif.
Samsung juga memfasilitasi siswa untuk pelaksanaan praktek kerja industri di Samsung Service Center maupun afiliasinya, serta memfasilitasi dan memprioritaskan lulusan-lulusan Samsung Tech Institute untuk mengikuti proses rekrutmen di Samsung Service Center maupun afiliasinya yang disesuaikan dengan masingmasing lokasi juga di Pabrik Samsung sesuai dengan kebutuhan dan kriteria dunia industri.
"Kurikulum untuk jenjang SMK seringkali dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan yang ada di dunia usaha dan industri. Dengan revitalisasi yang sedang dijalankan, satu dari tiga kurikulum di SMK akan dibuat lebih fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan industri," paparnya.
Hingga tahun 2019 pemerintah menyasarkan untuk memajukan kualitas 1.775 SMK, yang meliputi 845.000 siswa, salah satunya melalui program pendidikan vokasi industri, kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian BUMN, dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Untuk tahap pertama, program difokuskan pada SMK di area pulau Jawa.
Dirjen Industri Kecil Menengah Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengatakan, program pendidikan vokasi industri dimaksudkan dalam rangka mensinergikan kebutuhan industri dengan SDM yang dibutuhkan.
"Kenapa kita menginisiasi karena industri tidak mudah mendapatkan tenaga kerja yang dibutuhkan. Penyebabnya, pendidikan di SMK itu ketinggalan dua generasi, termasuk peralatannya," katanya.
Oleh karena itu, bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemenperin menyatukan program yang harus dijalankan SMK yaitu pendidikan vokasi industri.
"Kalau tidak, mereka lulusan SMK nanti hanya akan jadi tukang. Pembangunan SDM itu penting. Karena itu kami minta ke industri untuk memberi mesin ke SMK agar lebih maju," pintanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/samsung_20170830_123105.jpg)