Renungan Iduladha

Ketua PWNU Jateng: Mengorbankan Ego

Iduladha menjadi waktu yang tepat untuk introspeksi diri dan kehidupan beribadah. Berikut renungan Iduladha dari Ketua PWNU Jawa Tengah, Abu Hapsin.

Ketua PWNU Jateng: Mengorbankan Ego
Istimewa
Ketua PWNU Jateng Abu Hapsin 

TRIBUNJATENG.COM - Iduladha menjadi waktu yang tepat untuk introspeksi diri dan kehidupan beribadah. Berikut renungan Iduladha dari Ketua PWNU Jawa Tengah, Abu Hapsin.

‎Menilik dari sejarahnya, Iduladha atau Idulkurban mempunyai makna yang sangat luar biasa. Bagaimana seorang bapak rela mengorbankan anak lelaki, sebagai sesuatu yang sangat dicintainya, secara sukarela dilaksanakan demi memenuhi perintah Allah SWT.

Inti ajaran dari kurban adalah kerelaan berkorban, mengorbankan apa-apa yang sangat disenangi dan dicintai, demi meraih rida-Nya. Bu‎kan hanya sekedar menyembelih hewan kurban lalu selesai. Hewan kurban hanya sebagai simbol, alat/perantara, bukan tujuan.

Dengan menitahkan Nabi Ibrahim menyembelih anak tersayangnya, Ismail, Allah meminta kepada manusia untuk melupakan dan mengorbankan ego. Secara sukarela memberikan sesuatu yang tidak kita cintai sepenuh hati, berarti bukan berkorban namanya.

Bagi orang yang kaya raya, menyembelih puluhan atau bahkan ratusan hewan kurban belum tentu bisa menyerap secara baik makna berkorban. Di hari ini, ia bisa dengan mudah menyumbangkan puluhan hewan kurban, tapi dalam keseharian masih selalu ingin menang-menangan, mengedepankan ego, atau berarti ia belum bisa menyelami dan meresapi makna berkorban.

Pun demikian jika kita masih beranggapan mayoritas selalu benar, mayoritas harus selalu menang atau dimenangkan, ini artinya kita masih mengedepankan ego sebagai mayoritas‎. Kita belum mampu menyelami makna berkurban yang sesungguhnya. Demi sebuah kemaslahatan bersama, mayoritas tak harus selalu benar, menang atau dimenangkan.

Untuk mampu meresapi dan menyelemi makna kurban, dibutuhkan jiwa kepahlawanan yang tinggi.‎ Jiwa yang secara rela mampu menekan egonya, demi maslahat yang lebih besar.

Dalam konteks pilkada misalnya, semua orang tentu ingin yang memenangkan kontestasi adalah dari kelompoknya masing-masing. Tetapi, jika itu tak tercapai, sudah seharusnya semua yang terlibat rela mengorbankan ego pribadi dan kelompoknya, guna kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Makna berkorban tak bisa diukur dari banyaknya hewan kurban yang disembelih, dari seberapa banyak daging yang dibagikan. Melainkan dari seberapa jauh kita mampu menekan ego masing-masing dalam keseharian, demi meraih cinta dan rida-Nya. (Tribun Jateng Cetak/yan)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: rika irawati
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved