Pilgub Jateng
PDIP Masih Buka Opsi Koalisi, Jika Ingin Jadi Balon Wagub Silakan Lobi ke. . .
“Intinya, PDI Perjuangan semakin banyak kawan bergabung semakin suka. Seribu kawan kurang, satu lawan kebanyakan. Kita tidak tertutup, ini malah ada k
Penulis: m nur huda | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wacana ‘head to head’ melawan PDI Perjuangan yang digadang sejumlah partai politik (Parpol) dalam pelaksanaan Pilgub Jateng 2018, masih ditanggapi dingin oleh partai berlambang kepala banteng itu. PDI Perjuangan justru masih membuka opsi untuk berkoalisi.
“Intinya, PDI Perjuangan semakin banyak kawan bergabung semakin suka. Seribu kawan kurang, satu lawan kebanyakan. Kita tidak tertutup, ini malah ada kader PPP daftar ke sini,” kata Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng, Bambang Wuryanto, Minggu (3/9).
Pihaknya membuka peluang bagi Parpol manapun untuk bergabung. Semisal dengan Partai Gerindra ataupun Parpol lain. Namun ia menegaskan, mengenai lobi jika meminta posisi sebagai calon wakil gubernur, Bambang menyarankan agar berkomunikasi ke DPP PDI Perjuangan di Jakarta.
“Sekali lagi, disampaikan kalau lobi ingin jadi wakil atau ingin diusung jadi gubernur maka lobinya jangan ke Semarang, tapi di Jakarta. Itupun milih, tempatnya di Teuku Umar (kediaman Ketua Umum Megawati Soekarno Putri),” tandasnya.
Saat ditanya apakah PDI Perjuangan nantinya akan mengusung paslon sendiri mengingat di Jateng sudah mampu mengusung tanpa harus berkoalisi, Bambang menyatakan, hal itu kewenangan ketua umum.
“Kalau kita mengusung sendiri sebenarnya bisa, tapi pertanyaan itu yang bisa jawab adalah ketua umum, sebab ini Jateng adalah daerah khusus,” jelasnya.
Kemudian ketika dimintai tanggapan, adanya wacana head to head yang adalah gabungan dari Parpol-Parpol mengusung calon sendiri untuk melawan calon dari PDI Perjuangan, Bambang menilai hal itu wajar. Sebab Jateng selama ini masih dikenal sebagai ‘kandang banteng’.
“Saya kira setiap partai berharap mengalahkan PDI Perjuangan, sebab mereka tahu bahwa PDI Perjuangan punya resources yang kuat di Jateng. Saya tidak mengatakan paling kuat, tapi hari ini PDI Perjuangan paling siap. Sebab survei kita (survei internal) di angka 35,6 persen,” katanya.
Mengenai bakal calon yang akan diusung, ia menambahkan, pihaknya memang telah menggelar survei internal terhadap tokoh-tokoh. Namun survei itu sebagai pendukung bagi partai untuk menunjuk seseorang sebagai calon, yang utama adalah pemahaman tentang ideologi Marhaenisme.
“Prinsipnya, selain survei adalah pemahaman dan penjiwaan konsep ideologi partai yaitu Marhaenisme. Jika ada yang surveinya bagus dan bisa menerapkan ideologi Marhaenisme, maka ya ciamik, dan yen duwite ono,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Lembaga Pengkajian dan Survei Indonesia (LPSI) Muchamad Yuliyanto mengungkapkan, dari hasil survei yang pihaknya lakukan pada pertengahan Agustus 2017 lalu, diketahui bahwa afiliasi politik yang menunjukkan basis konstituen loyalis parpol secara umum belum berubah.
Dalam kondisi silent atau tidak ada kampanye seperti saat ini, lanjut Yuliyanto, afiliasi politik basis konstituen loyalis parpol adalah PDI Perjuangan 12,0 persen, PKB 4,90 persen, Golkar 2,90 persen, Gerindra 2,50 persen, PPP 1,10 persen, parpol lainnya di bawah 1,0 persen, sedangkan pemilih mengambang ada 73,70 persen.
“Hal ini menunjukkan Jateng masih menjadi kandang banteng untuk Pilgub 2018 maupun Pileg 2019,” tegasnya.
Namun kondisi lainnya, bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang Pilgub 27 Juni 2018 mencapai 26,80 persen, artinya masyarakat yang mengetahui adanya Pilgub Jateng masih rendah. Secara kesleuruhan jika terdapat Pilgub 2018 maka partisipasi mencapai 75 persen.
“Ini juga pekerjaan rumah untuk KPU dan Bawaslu untuk gencar sosialisasikan setiap tahapan Pilgub Jateng,” katanya. (tribunjateng/had)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-pdip_20170723_090810.jpg)