Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kisah Warga di Sebuah Dusun di Brebes yang Selama 40 Tahun Hidup Tanpa Air Bersih

Untuk mandi, cuci, dan buang air, mereka mengandalkan air sungai. Namun, nestapa bertambah lantaran sungai setempat mengering.

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: a prianggoro
Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Lebih dari 40 tahun, warga Dukuh Wangon, Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, hidup tanpa air bersih. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,BREBES- Lebih dari 40 tahun, warga Dukuh Wangon, Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, hidup tanpa air bersih.

Tidak ada sumber mata air di dukuh tersebut untuk minum dan memasak. Mereka hanya mengandalkan air hujan yang ditampung di bak penampungan selama musim penghujan.

Untuk mandi, cuci, dan buang air, mereka mengandalkan air sungai. Namun, nestapa bertambah lantaran sungai setempat mengering.

Kepala Desa Kubangsari, Tarlan, mengatakan warga Dukuh Wangon memiliki mata pencaharian sebagai petani.

"Jika tidak ada pasokan air bersih, mereka terkadang mengandalkan air sungai untuk segala keperluan sehari- hari. Termasuk untuk minum dan memasak," jelasnya, Sabtu (16/9/2017).

Air sungai yang mengalir di desa setempat merupakan aliran dari Waduk Cisadap di Kecamatan Ketanggungan. Kondisi air di bendungan itu kini menyusut drastis karena musim kemarau.

"Padahal (air sungai) sangat tidak layak untuk konsumi. Air sungai sangat keruh dan kotor. Tapi sepertinya warga sudah terbiasa karena sudah berpuluh- puluh tahun lamanya dengan kondisi itu," terangnya.

Karena sungai untuk irigasi kering, petani pun tidak bisa mengolah areal pertanian dan sebagian beralih pekerjaan dengan membuat bata merah.

Mereka memanfaatkan alur sungai Cisadap yang mengering dengan memanfaatkan tanah sungai untuk diproses menjadi batu bata.

Setelah dijemur selama beberapa hari, bata kemudian dibakar. Proses pembuatan hinggga siap dipasarkan memakan waktu lebih kurang setengah bulan.

"Bisa membuat bata seribu dalam sehari. Biasanya ada juragan yang ke sini untuk membelinya," kata warga yang membuat batu bata, Saminah (54). (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved