Breaking News:

FOCUS

Tertib Berlalu Lintas, Siapa Takut?

Sepekan terakhir, ramai pesan berantai atau broadcast informasi mengenai imbauan untuk lebih berhati-hati saat berkendara dan berhenti di lampu pengat

tribunjateng/bram
Moh Anhar wartawan Tribun Jateng ok 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sepekan terakhir, ramai pesan berantai atau broadcast informasi mengenai imbauan untuk lebih berhati-hati saat berkendara dan berhenti di lampu pengatur lalulintas. Pesan tersebut disebarluaskan melalui grup-grup aplikasi WhatsApp dan sejenisnya.

Informasi itu menyebutkan adanya CCTV yang memantau kendaraan yang melanggar peraturan berlalulintas, misalnya kendaraan berhenti melebihi marka jalan atau bahkan menerobos lampu bangjo itu.

Bila terbukti melanggar, E-Tilang akan diterapkan. E-Tilang ini mendasarkan pada rekaman CCTV terhadap kendaraan yang melanggar. Plat nomor kendaraan yang melanggar akan turut terekam dan akan dilaporkan Dishub sebagai pengelola CCTV.

ATCS Kota Semarang
ATCS Kota Semarang (Istimewa)

Sesuai UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), rekaman CCTV merupakan alat bukti yang sah, sehingga dapat dipakai sebagai alat bukti.

Selanjutnya, Dishub akan melaporkan ke Ditlantas Polda dan Satlantas Polrestabes Semarang untuk penindakan. Tujuan dari program ini yaitu terciptanya budaya tertib berlalulintas.

Tentu pemakaian CCTV ini merupakan hal baru bagi masyarakat. Saat kali pertama diterapkan pun langsung mendapat respons beragam dari masyarakat.

Apalagi video petugas Dishub yang menegur langsung bagi pelanggar lalulintas yang terekam CCTV saat berhenti di lampu pengatur lalulintas. Petugas meminta pengendara motor mundur dari garis batas berhenti. Bahkan, ada juga video petugas yang menyuruh pembonceng turun dari motor karena tidak memakai helm.

Umumnya, pelanggar tersebut kaget ada suara dari mikrofon yang menegur mereka.
Di Kota Semarang, saat ini, sudah terpasang CCTV di 26 titik. Selanjutnya, akan ditambah 11 unit CCTV lagi di titik lain. Hal serupa juga dilakukan di kota-kota lainnya.

Harus diakui, sebagian pengendara sepeda motor maupun mobil masih ada yang melakukan pelanggaran. Nampaknya, penegakan aturan berlalulintas perlu bertahap. Bagaimana dulu awal penerapan pemakaian helm standar SNI dan sepasang spion kanan dan kiri bagi pengendara sepeda motor. Meski tindakan tegas dari polisi lalulintas seringkali dilakukan, nyatanya di jalanan masih sering kita temukan pengendara yang melanggar ketentuan ini.

Filosofi aturan berlalulintas sejatinya adalah untuk menciptakan ketertiban berkendara, yang selanjutnya berimbas pada keselamatan di jalan raya. Angka kecelakaan jalan raya masih terbilang tinggi. Perilaku di jalan raya mencerminkan kepribadian seseorang. Bila ia ingin menghargai keselamatan dirinya di jalan raya, maka ia juga harus bisa menjaga keselamatan pengendara lainnya. Caranya? Tentu saja dimulai dari tertib berlalulintas.

Karenanya, sudah seharusnya bila tertib berlalulintas itu adalah kebutuhan semua orang. Bila orang melanggarnya, maka ia bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, tapi juga pengguna lain.

Ingat poster-poster bernda canda yang mengingatkan keselamatan berkendara terpasang di tepian jalan: "Hati-hati jatuh di aspal, tidak seindah jatuh cinta". Nah, Bila sikap tertib berlalulintas ini sudah dilaksanakan, maka tak perlu takut-takut diawasi CCTV. Apalagi mendapat kiriman surat tilang di rumah. (tribunjateng/moh anhar)

Penulis: moh anhar
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved