Breaking News:

FOCUS

Akhirnya Datang Juga

Kamis (18/5) dini hari, Bridgatar Mohammad Adam ditarik dari barisan rekan-rekan taruna Akademi Kepolisian (Akpol) tingkat II. Setelah mendapat bebera

Penulis: muslimah | Editor: iswidodo
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kamis (18/5) dini hari, Bridgatar Mohammad Adam ditarik dari barisan rekan-rekan taruna Akademi Kepolisian (Akpol) tingkat II. Setelah mendapat beberapa pukulan dari para seniornya, ia meregang nyawa.

Kasus penganiayaan berujung kematian itu berbuntut panjang dan banyak bumbu cerita. Para senior yang berjumlah 14 orang ditetapkan menjadi tersangka. Namun bahkan saat agenda sidang baru memasuki pembacaan dakwaan, sudah ada drama di dalamnya.

Dua kali ke-14 taruna Akpol mangkir sidang. Mereka tak kelihatan batang hidungnya pada 5 September 2017, juga pada sidang kedua, 12 September 2017.

Baru di sidang ketiga, Selasa (19/9) kemarin, ke-14 taruna itu hadir di pengadilan. Mereka diangkut mobil tahanan Polda Jateng dan tiba di halaman PN Semarang pukul 10.25 WIB.

Sejumlah taruna akpol akhirnya hadir di PN Semarang untuk mengikuti sidang dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap korban hingga meninggal dunia. Mereka hadir mengakan pakaian batik, Selasa 19 September 2017.
Sejumlah taruna akpol akhirnya hadir di PN Semarang untuk mengikuti sidang dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap korban hingga meninggal dunia. Mereka hadir mengakan pakaian batik, Selasa 19 September 2017. (tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas)

Selama itu (sebelum 14 taruna akhirnya hadir di sidang), banyak rumor muncul terkait kenapa mereka mangkir. Tribun Jateng pun mencoba menelusuri keberadaan ke-14 taruna Akpol. Dimana mereka? kenapa tidak dititipkan ke Lapas Kedungpane?

Hasilnya?Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Gubernur Akpol, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel hingga Presiden Jokowi seolah sepakat mengambil sikap bungkam.

Itulah mengapa detik-detik menunggu sidang ketiga kemarin begitu mendebarkan. Ada kelegaan saat akhirnya ke-14 tersangka penganiayaan akhirnya berhasil disidangkan.

Saatnya hentikan budaya kekerasan

Jika kita searching di mesin pencarian google, dalam kurun satu dasa warsa terakhir, terjadi dua kasus kekerasan di Akpol.

Yang pertama menimpa Hendra Saputra pada 26 Maret 2006. Ia mengaku ditendang hingga disetrum para senior dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Namun setelah menjalani persidangan, kelima senior dinyatakan bebas, tidak terbukti melakukan penganiayaan.

Pada November 2011, dua mantan taruna menggugat Gubernur Akpol di Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang. Sebelumnya mereka dipecat dari Akpol lantaran tidak mengikuti pendidikan selama dua bulan. Kedua penggugat mengatakan hal itu terjadi karena mereka sakit akibat penganiayaan yang dilakukan para senior. PTUN mengabulkan gugatan mereka.

Manakala Polri tengah dalam upaya memperbaiki citranya, kasus kekerasan yang berakibat tewasnya Brigdatar Mohammad Adam bisa dijadikan titik balik. Seperti yang disampaikan Andy Suryadi, Pegiat Pusat Kajian Kepolisian Unnes, inilah saatnya Polri bersih-bersih.

Sebab, Akpol merupakan institusi yang melahirkan para perwira polisi, yang akan turut menentukan wajah Polri ke depan. Tak bisa dibayangkan, jika para perwira kepolisian yang dihasilkan, ternyata bermasalah sejak dalam proses pendidikannya.

Hal serupa disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Menurutnya, inilah momentum mengubah budaya yang masih berlaku. "Selain itu harus ada evaluasi menyeluruh agar budaya (kekerasan)berhenti," tuturnya. (tribunjateng/muslimah)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved