Legenda Mata Air Sikopyah di Kaki Gunung Slamet

Warga desa Serang, Karangreja Purbalingga punya tradisi unik dalam menjaga keseimbangan alam yang jadi tempat tinggal mereka.

Legenda Mata Air Sikopyah di Kaki Gunung Slamet
tribunjateng/khoirul muzaki
Warga desa Serang, Karangreja Purbalingga punya tradisi unik dalam menjaga keseimbangan alam yang jadi tempat tinggal mereka. Legenda Mata Air Sikopyah masih terus lestari dijaga. Mereka ambil air dari Sikopyah pakai ruas bambu. 

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Warga desa Serang, Karangreja Purbalingga punya tradisi unik dalam menjaga keseimbangan alam yang jadi tempat tinggal mereka.

Syamsuri, sesepuh desa tak dapat membayangkan kengerian yang terjadi jika sumber mata air Sikopyah mati.

Mata air itu telah menghidupi sejumlah desa di lereng gunung Slamet, terutama wilayah Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga.

Dari sumber itu, air dialirkan untuk kebutuhan rumah tangga hingga mengaliri tanaman agar tumbuh menghasilkan.

Warga desa Serang, Karangreja Purbalingga punya tradisi unik dalam menjaga keseimbangan alam yang jadi tempat tinggal mereka. Legenda Mata Air Sikopyah masih terus lestari dijaga. Mereka ambil air dari Sikopyah pakai ruas bambu.
Warga desa Serang, Karangreja Purbalingga punya tradisi unik dalam menjaga keseimbangan alam yang jadi tempat tinggal mereka. Legenda Mata Air Sikopyah masih terus lestari dijaga. Mereka ambil air dari Sikopyah pakai ruas bambu. (tribunjateng/khoirul muzaki)

Saat cuaca kering dan masyarakat di tempat lain menjerit kehausan, sumber mata air Sikopyah tetap menyemburkan air tanpa henti.

Karena perannya yang vital, penduduk sejak era nenek moyang berusaha merawat mata air itu dengan beragam cara.

Selain dirawat secara lahir, mata air itu diruwat dengan cara gaib.

"Setiap malam satu Suro, kami mujahadah dan salawatan, berharap agar yang Maha Kuasa menjaga mata air itu agar tetap mengalir dan bermanfaat bagi warga," katanya.

Warga juga masih melestarikan ritual yang dipraktikkan nenek moyang terdahulu dalam meruwat mata air.

Mereka mengunjungi mata air sambil membawa sesajen saat menjelang Syuro dan malafalkan doa di depan mata air.

Halaman
123
Penulis: khoirul muzaki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved