Kepala Perpusnas RI Sebut Indonesia Butuh Ribuan Filolog

Untuk menggali naskah kuno dibutuhkan banyak filolog, dengan begitu pesan yang ada pada naskah kuno, dapat dipahami oleh generasi milenial,"

Kepala Perpusnas RI Sebut Indonesia Butuh Ribuan Filolog
Tribun Jateng/akbar hari murti
Kepala Perpusnas RI, Muhammad Syarif Bando saat diwawancara usai membuka Festival Naskah Nusantara III di Gedung Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Senin (25/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Akbar Hari Mukti

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia menyatakan, saat ini Indonesia membutuhkan banyak filolog untuk menerjemahkan naskah lokal peninggalan zaman kuno.

Begitu diungkapkan Kepala Perpusnas Republik Indonesia, Muhammad Syarif Bando pada pembukaan Festival Naskah Nusantara III di Gedung Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Senin (25/9/2017).

"Untuk menggali naskah kuno dibutuhkan banyak filolog, dengan begitu pesan yang ada pada naskah kuno, dapat dipahami oleh generasi milenial," katanya.

Dirinya pun menilai, saat ini keberadaan filolog masih kurang, sehingga sangat dibutuhkan oleh negara.

"Bukan hanya kebutuhan untuk mengkaji agar pesan dari naskah bisa dikirim kepada masyarakat, tetapi juga dengan keberadaan filolog ini naskah makin berkembang di internasional, mengingat perkembangan era sekarang sangat masif dari era cetak ke digital," katanya.

Ia pun mengatakan, saat ini Indonesia bukan hanya membutuhkan 100-500 filolog, tetapi ribuan.

"Artinya apa? Bahwa Indonesia ini prosentasi filolognya sangat kecil sekali. Padahal, mereka berguna sekali untuk mengungkap berbagai sejarah bangsa, menggali lewat teks-teks kuno yang ditemukan," urainya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UNS Solo Ravik Karsidi, mengatakan, dengan diadakannya Festival Naskah Nusantara III di Kampus UNS, diharapkan masyarakat bisa lebih mengenal berbagai naskah kuno yang sudah ditemukan.

Meski demikian, senada dengan Syarif Bando, ia menjelaskan, untuk mengetahui isi naskah tersebut dibutuhkan filolog yang mampu menerjemahkannya untuk selanjutnya disampaikan kepada masyarakat.

"Dengan demikian, sesuatu di masa lalu dapat dimanfaatkan untuk masa kini dan masa datang," katanya.

Dirinya pun berkeinginan UNS bisa membuka program studi filolog, dengan demikian UNS bisa memberikan kontribusi pada kebutuhan filolog di Indonesia.

"Di UNS saat ini belum ada. Semoga secepatnya bisa ada," jelasnya. (*)

Penulis: akbar hari mukti
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved