Dokter RS Telogorejo Dibunuh Anak Kos, Begini Kesaksian Kolega Korban di Persidangan
Keesokan harinya, Dion melihat rekaman kamera CCTV yang ada di Telogorejo bersama petugas Polsek Semarang Tengah.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: abduh imanulhaq
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rahdyan Trijoko Pamungkas
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Kasus pembunuhan dokter senior Nanik Trimulyani (72) belum menemui titik terang dalam sidang di Pengadilan Negeri Semarang.
Saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengaku tidak melihat langsung kronologi pembunuhan oleh terdakwa Supardi (22).
Saksi Dion Santoso adalah teman seprofesi Nanik selama bertugas menjadi dokter fisioterapi di Rumah Sakit SMC Telogorejo.
"Kebiasaan Dokter Nanik saat pergi selalu menitipkan kunci ke saya. Dokter Nanik juga selalu menitipkan mobil di Telogorejo," ujar Dion dalam sidang beragendakan pemeriksaan saksi, Senin (25/9/2017).
Menurutnya, terakhir korban menitipkan kunci pada 14 April 2017.
Saat itu, Nanik meminta izin absen selama 10 hari untuk bepergian ke luar negeri.
"Waktu itu Dokter Nanik menitipkan kunci dan tas kresek berwarna putih kepada saya," paparnya.
Melalui Whatsapp, Nanik sempat menghubunginya saat akan pulang dari luar negeri.
Dokter senior itu mengabarkan akan pulang ke Semarang pada 23 April.
Dion menyampaikan tak dapat menjemput Nanik sehingga akan menyusulkan kunci ke rumahnya di Jalan Plampitan.
"Pada hari Minggu tanggal 23 April, saya ke rumah Dokter Nanik naik sepeda mengantarkan kunci. Waktu itu saya datang lebih dulu. Sebelum Dokter Nanik pulang, ada yang membukakan pintu. Laki-laki itu siapa, saya tidak begitu tahu tapi tahu ciri-cirinya," ujar saksi.
Setelah itu, Nanik pun tiba.
Laki-laki yang membukakan pintu tadi bergegas membawa kopernya masuk ke dalam rumah.
"Saya beri kunci rumah dan mobil serta kresek berwarna putih ke Dokter Nanik. Karena waktu itu akan hujan, dokter meminta saya pulang," tuturnya.
Keesokan hari, Nanik tak masuk bekerja karena masih tanggal merah.
Nanik dijadwalkan mulai aktif bekerja pada 25 April.
Ternyata pada hari tersebut yang bersangkutan tidak masuk.
Begitu pula pada hari berikutnya.
Dion kemudian mendapat pesan singkat dari teman gereja korban untuk mendatangi rumah dokter Nanik.
Bersama istri, dia datang ke rumah korban.
Ternyata pemilik rumah tak ada di tempat.
Anak kos yang tinggal di rumah korban juga menyampaikan yang bersangkutan tidak ada.
Dion setiap berkunjung ke rumah korban hanya berada di halaman, tak pernah masuk.
Pada hari dia berkunjung dengan istri, tak terlihat Freed yang biasa digunakan Nanik.
Saat itu mobil yang berada di rumah korban adalah Starlet.
"Dokter Nanik punya dua mobil, Freed dan Starlet. Mobil yang biasa digunakan mobil Freed. Waktu itu, mobilnya tidak ada," tuturnya.
Setelah melihat mobil tak ada di rumah korban, dia menuju ke rumah tetangga sebelah yang juga keluarga Nanik.
Kepadanya, Dion menerangkan ikhwal Nanik yang tak masuk kantor.
Dia tak lupa menghubungi anak dokter itu di Jakarta.
Keesokan harinya, Dion melihat rekaman kamera CCTV yang ada di Telogorejo bersama petugas Polsek Semarang Tengah.
Terlihat di rekaman itu ada dua laki-laki yang mengambil Freed korban di parkiran.
Kejadiannya pada 23 April, dua jam setelah Dion menyerahkan kunci ke Nanik memakai sepeda.
Dion mengaku tak begitu memperhatikan apakah terdakwa satu di antara dua pria yang mengambil mobil korban.
Dia juga tak tahu bagaimana mobil itu dibawa kabur dan keluar dari rumah sakit.
"Saya tahu terdakwa merupakan pelaku dari media massa," jelasnya.
Selama Dion memberi keterangan, Supardi duduk menyimak.
Supardi adalah penjaga rumah kos yang dihuni dan dimiliki Nanik.
Perlu diketahui, satu lagi yang terlibat dalam pembunuhan ini bernama Parman yang diduga sebagai pelaku utama masih buron.
Parman adalah anak kos di rumah Nanik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dokter-nanik-tri-mulyani_20170926_005341.jpg)