Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ada Tradisi Unik di Desa Arenan Purbalingga, Sapi Sembelihan Diarak sebagai Tolak Bala

Awal mula ritual berawal dari musibah yang terjadi secara beruntun di dukuh itu pada masa silam.

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUN JATENG/KHOIRUL MUZAKKI
Warga menggotong bangkai sapi yang sudah disembelih di Grumbul Gligir Sapi, Arenan, Kaligondang Purbalingga, Rabu (3/10/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, PURBALINGGA - Rabu (4/10/2017) siang, warga Dukuh Gligir Sapi Desa Arenan, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, berkumpul di sebuah tanah lapang di pusat kampung.

Mereka mengerumuni seekor sapi yang diikat pada pohon kelapa.

Puluhan pria dewasa berbagi tugas menjatuhkan tubuh gempal hewan itu memakai bantuan tali.

Sapi ini kemudian dipotong sang jagal setelah didoakan pemuka agama.

Prosesi ini bukan pemotongan hewan biasa.

Masyarakat setempat menyebutnya sebagai ritual tolak bala yang berlangsung sewindu sekali.

Tak heran jika setiap tahapan penyembelihan dilalui secara sakral.

Meski telah berubah menjadi bangkai, sapi itu tetap diberi penghormatan.

Sesepuh dukuh memandikannya pakai air bertabur kembang yang dicampur wewangian.

Bangkai sapi yang masih bersimbah darah lalu ditata di atas tandu berbahan bambu.

Pemuka agama membalut tubuh sapi itu memakai kain kafan yang telah dihiasi kembang mawar dan kantil.

Doa pun dipanjatkan untuk keselamatan warga agar terhindar dari bala atau bencana.

Bangkai sapi berselimut kafan selanjutnya diarak dengan cara dipikul.

Rute kirab dari tempat penyembelihan ke komplek masjid dusun sekitar 1 kilometer.

Di komplek masjid, daging dan tulang sapi dipisahkan.

Tulangnya kemudian dikubur di ujung dusun sebagai syarat ritual.

"Dulu yang dikubur kepala dan ekor sekarang tulangnya saja," kata pemuka masyarakat Arenan, Khamidi, kepada Tribunjateng.com.

Menurutnya, tradisi pemotongan sapi ini telah berlangsung sejak era nenek moyang.

Awal mula ritual berawal dari musibah yang terjadi secara beruntun di dukuh itu pada masa silam.

Konon, wilayah yang sekarang termasuk Desa Arenan dahulu merupakan tempat penampungan bangkai-bangkai hewan yang jadi santapan binatang buas.

Dalam perjalanannya, wilayah itu dihuni penduduk.

Selanjutnya berkembang menjadi sebuah pemukiman yang sekarang dikenal sebagai Grumbul Gligir Sapi.

Aneh, berbagai kejadian tak wajar sering melanda wilayah itu sejak menjadi kampung.

Warga sering meninggal mendadak dan beruntun, semisal bunuh diri atau jatuh dari pohon.

Bahkan, jelas Khamidi, pernah dalam satu hari ada dua hingga tiga warga meninggal tiba-tiba.

"Jadi lahat bagi jenazah yang satu belum selesai digali, sudah ada yang meninggal lagi," tuturnya.

Jelas saja fenomena itu membuat warga lain waswas.

Mereka pun mengirim perwakilan ke rumah seorang pintar guna meminta petunjuk agar petaka bisa berhenti.

Ternyata keluar petunjuk agar warga mengadakan ritual pemotongan sapi setiap sewindu atau delapan tahun sekali.

"Kalau zaman dahulu itu sebagai tumbal. Sekarang disebut selamatan," jelas Khamidi.

Secara geografis, Khamidi meyakini Dukuh Gligir Sapi mirip sapi yang sedang tertidur jika dilihat dari atas.

Prosesi penyembelihan pun dilaksanakan di tanah lapang yang dipercaya sebagai "pusar sapi".

Adapun "kepala sapi" terletak di bagian timur dusun, tempat mengubur kepala hewan ini setelah dipotong.

Posisi "ekor sapi" di sisi barat dusun menjadi tempat mengubur ekornya.

Seiring masyarakat yang kian religius, kepala dan ekor sapi sembelihan kini tak lagi dikubur.

Warga menggantinya dengan mengubur tulang belulang.

"Kami memaknai ritual ini bukan sebagai persembahan. Sekarang ini merupakan selamatan atau syukuran," jelas Khamidi.

Daging sapi selanjutnya dibagi-bagikan ke warga untuk dimakan bersama setelah dimasak dan didoakan secara Islam.

Doa itu berisi harapan kepada Allah agar penduduk senantiasa dihindarkan dari bala atau musibah.

"Setelah prosesi ini, warga juga menggelar pengajian. Kami tetap lestarikan tradisi tapi juga tak bertentangan dengan agama yang kami yakini," paparnya.

Kepala Desa Arenan, Esti Dwi Hartanti, mengatakan pemerintah desa mendukung kearifan lokal selama tak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Baginya, pemotongan sapi di Gligir Sapi bukan sekadar ritual tolak bala.

Ada semangat kegotongroyongan dalam pelaksanaan ritual itu.

Tradisi ini mendorong warga berkumpul lalu swadaya iuran membeli sapi.

Daging hasil sembelihan dibagikan sehingga mereka bisa menikmati hidangan istimewa sebagai bentuk syukur.

"Justru berkat swadaya ini, mereka ada pengorbanan dan memiliki unsur gotong royong," ujar Esti. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved