Breaking News:

Miliki Indeks Glikemik Lebih Rendah Dari Nasi, Sorgum akan Dipopulerkan di Demak

"Wilayah kering saat itu disikapi petani dengan produksi sorgum yang memang relatif tahan kering," jelas Joni

Penulis: rival al manaf | Editor: muslimah
Tribun Jateng/rival al manaf
Bupati Demak M Natsir (kanan) dan Menteri Kesehatan Nila Moeloek (dua dari kanan) melihat hasil olahan sorgum di Desa Jatisono, Demak 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Sorgum, tanaman yang masih dalam keluarga padi, jagung dan gandum akan dipopulerkan sebagai salah satu penyokong karbohidrat di samping beras dan gandum.

Hal itiu dipaparkan oleh peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, Dr Joni Munarso, Sabtu (7/10/2017).

Ditemui saat menggelar pameran hasil olahan Sorgum di Desa Jatisono, Demak ia menjelaskan Kabupaten Demak telah lama dikenal sebagai daerah penghasil sorgum.

"Wilayah kering saat itu disikapi petani dengan produksi sorgum yang memang relatif tahan kering," jelas Joni.

Mengalirnya air dari waduk Kedung Ombo menjadi titik awal perubahan pola tanam dan konsumsi pangan masyarakat. Ketersediaan air telah mengubah usahatani dari berbasis sorgum menjadi berbasis padi. Budaya konsumsi sorgum juga lambat laun terkikis oleh adanya beras.

"Setelah itu, nasi menjadi peran yang makin kuat pada pola konsumsi pangan masyarakat Demak. Kini, sorgum memang masih diusahakan, namun dalam areal yang jauh lebih kecil hanya 75 hektare di desa Raji, Kecamatan Demak," bebernya.

Ia menjelaskan, penelitian Balitbangtan menunjukkan bahwa nasi beras mempunyai Indeks Glikemik di angka 70, sedangkan sorgum hanya sebesar 41. Indeks Glikemik adalah nilai laju konversi karbohidrat menjadi gula dalam tubuh manusia.

"Oleh karena itu maka sorgum sejatinya lebih sehat dibanding nasi," bebernya.

Dengan alasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Demak, melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Distan) mencoba menghidupkan kembali peran sorgum dalam pola konsumsi masyarakat.

Bupati Demak, M Natsir beranggapan, konsumsi sorgum mungkin kurang diminati lagi oleh masyarakat. "Oleh karena itu sorgum harus diolah baik dalam bentuk mi, bakso atau makanan lain," imbuh Natsir.

Berkenaan dengan konsep tersebut, ia telah membangun program Pengembangan Kawasan Percepatan Diversifikasi Pangan Berbasis Sorgum hasil kerjasama Pemkab Demak dengan Balitbangtan-Kementan.

"Sudah diadakan bantuan beberapa unit alat penepung sorgum di desa Raji, Kecamatan Demak, inisiasi pembentukan kelompok usaha pengolahan sorgum, dengan cakupan usaha meliputi berasan sorgum, tepung, mie basah/mie kering, hingga bakso," beber Natsir. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved