TERUNGKAP, Penyebab Kematian Dua Warga Banjarnegara Usai Makan Gaplek

TERUNGKAP, Penyebab Kematian Dua Warga Petir dan Kaliajir Purwanegara, kabupaten Banjarnegara Usai Makan Gaplek

Penulis: khoirul muzaki | Editor: iswidodo
kompas.com
ilustrasi kucing mati 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Kematian dua warga di desa Petir dan Kaliajir Purwanegara, kabupaten Banjarnegara yaitu Musroil (53) dan Warsini (60) usai memakan gaplek atau tiwul beberapa waktu lalu mengejutkan banyak pihak.

Polisi masih menyelidiki penyebab kematian itu dengan menguji gaplek yang telah mereka makan di laboratorium.

Benarkah gaplek yang menyebabkan kematian mereka?

Kepala Dusun Sembir, desa Petir Purwanegara Karman mengungkapkan, seumur-umur, ia belum pernah menemukan kasus orang yang keracunan gaplek di daerahnya.

Terlebih, gaplek telah menjadi makanan utama warga secara turun temurun karena kondisi lahan yang tak bagus ditanami padi.

Polres Banjarnegara menunjukkan gaplek sebagai barang bukti atas kematian dua warga di Kecamatan Purwanegara usai konsumsi makanan itu dalam press rilis di Mapolres kemarin, Senin (9/10)
Polres Banjarnegara menunjukkan gaplek sebagai barang bukti atas kematian dua warga di Kecamatan Purwanegara usai konsumsi makanan itu dalam press rilis di Mapolres kemarin, Senin (9/10) (DOK HUMAS POLRES BANJARNEGARA)

Karman menduga kuat, ada sebab lain hingga membuat makanan itu terkontaminasi racun.

Awal musim penghujan ini disambut gembira para petani di desa Petir yang ladangnya kering kerontang diterpa kemarau.

Aktivitas di ladang kembali geliat. Musroil dan istrinya, Adem pasangan petani yang baru menikah setahun ini memilih menanami lahannya dengan bibit cabai.

Musim hujan jadi berkah sekaligus ujian bagi petani. Bukan hanya tanaman yang cepat subur, bermacam hama dan gulma pun mudah berkembangbiak.

Pasangan petani itu harus putar otak untuk membasmi hama yang terus mengintai tanaman mereka. Musroil memilih menggunakan racun kimia untuk mematikan hama-hama tersebut.

Ia mencampurnya dengan gaplek yang dibuat oleh Adem.

Bahan baku ketela bercampur racun kimia direndam beberapa hari sebelum dikeringkan dan ditumbuk jadi gaplek.

"Petani sini sudah biasa mencampur racun dengan gaplek untuk menjebak hama," kata Karman, Rabu (11/10)

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved