Meriahnya Peringatan Pertempuran Lima Hari di Kota Semarang, Ada Drama Perang hingga Kirab Batik
Ribuan masyarakat Semarang tumplek blek memenuhi kawasan Tugu Muda Semarang pada Sabtu (14/10/2017) malam.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: bakti buwono budiasto
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ribuan masyarakat Semarang tumplek blek memenuhi kawasan Tugu Muda Semarang pada Sabtu (14/10/2017) malam.
Warga Kota Lunpia tumpah ruah di kawasan Tugu Muda untuk menyaksikan peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Mereka rela berdesakan demi melihat acara yang digelar tiap tahun oleh Pemkot Semarang itu.
Pun halnya dengan Retno Muji Rahayu dan Nabila Febrina Fajri.
Dua warga Kota Semarang itu rela berdesakan dengan masyarakat lain demi bisa menyaksikan peringatan Pertempuran Lima Hari untuk pertama kalinya.
Baca: Unggah Vlog Saat Bincang dengan Presiden Jokowi, Casey Neistat : Cool Guy
"Ini pertama kali kami melihat peringatan Pertempuran Lima Hari. Kami jadi lebih tahu apa yang terjadi saat itu," ujar Retno.
Acara itu bukan hanya menarik bagi warga Kota Semarang semata. Danis Asprilia, mahasiswi Universitas Wahid Hasyim Semarang dan dua rekannya juga rela duduk berdesakkan dengan warga lainnya.
Acara tersebut menampilkan drama kolosal yang melibatkan pelajara Sekolah Menengah Atas (SMA) dan mahasiswa. Antara lain Universitas Tujuh Belas Agustus Semarang, Universitas Diponegoro, SMK 17 Agustus Semarang serta SMK N 7 Semarang.
Dalam drama kolosal itu dikisahkan, warga Semarang menyambut gembira kabar kemerdekaan Indonesia. Mereka merayakannya dengan cara menari-nari. Namun, Jepang yang telah kalah tidak mau menyerahkan begitu saja persenjataan mereka pada Indonesia.
Baca: Beredar Foto Bocah Kakak Beradik Tidur di ATM Bikin Netizen Trenyuh, Tapi Ada Juga Komentar Gini
Mereka lalu meracuni tandon air dengan sianida.
"Tandon air diracun," ujar pelaku drama.
Di akhir drama, terjadi pertempuran hebat antara pemuda Semarang dengan tentara Jepang. Pertempuran tersebut memakan ribuan korban di kedua belah pihak.
Kirab Batik
Selain drama kolosal, sejumlah pemuda di Kampung bati punya cara unik memperingati Pertempuran Lima Hari di Kota Semarang.
Mereka mengelilingi Kampung Batik di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur,
Sabtu (14/10).
Selain kirab, mereka juga melakukan prosesi siraman dengan memanfaatkan air sumur yang berada di tengah kampung itu.
Satu di antara peserta Luluk Noer Aini (35) mengatakan, mengikuti kirab merupakan hal baru bagianya. Menurut dia, kegiatan itu adalah untuk mengingat sejarah yang terjadi di Kota Semarang.
"Kami senang karena punya pengalaman baru dengan kirab batik. Karena ini baru pertama kali dilakukan. Saya harap hal seperti ini digelar lagi tahun mendatang," ujarnya.
Ketua Paguyuban Kampung Batik, Eko Haryanto mengatakan, selain sebagai peringatan Pertempuran Lima Hari. Lantaran saat Pertempuran Lima Hari, kata dia, lokasi Kampung Batik sekarang ini terbakar.
Selain itu, kirab juga merupakan rangkaian festival batik.
"Kampung batik ini terbarkar pada 17 Oktober 1945. Saat terbakar api dipadamkan dengan air di sumur yang berada di tengah Kampung Batik," terang dia.
Batik yang dikirab para pemuda tersebut berukuran 66 meter. Sedangkan motifnya, ucap Eko, yakni Parang Asem Baris dan Jagat Semarangan. (tribunjateng/rtp)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/aksi-teatrikal-pertempuran-lima-hari-di-semarang_20171014_214426.jpg)