Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

KEREN, Sudah 38 KK di Karangawen Pakai Biogas dari Hasil Olahan Limbah Sapi

Sedikitnya sebanyak 38 kepala keluarga di Desa Sidorejo, Karangawen, Demak memeroleh manfaat dari kotoran sapi

Penulis: m nur huda | Editor: iswidodo
tribunjateng/m nur huda
MENINJAU - Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ketika meninjau pengembangan reaktor biogas kandang sapi di Desa Sidorejo, Kabupaten Demak, Rabu (18/10). 

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Sedikitnya sebanyak 38 kepala keluarga di Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak memeroleh manfaat dari kotoran sapi. Limbah kotoran itu diolah menjadi biogas yang membuat penggunanya saat ini tak perlu membeli gas elpiji.

Seorang warga Karangawen Kabupaten Demak, Kaswi, sekitar setahun belakangan ini memroduksi kotoran sapi di belakang rumahnya untuk biogas. Selain untuk memasak, energi itu juga bisa menghasilkan listrik untuk kebutuhan rumah tangga.

"Kurang lebih selama setahun ini saya tidak lagi membeli elpiji tiga kilogram karena memanfaatkan biogas dari kotoran sapi untuk memasak," kata Kaswi saat berdialog dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ketika meninjau pengembangan reaktor biogas kandang sapi di rumahnya, Desa Sidorejo, Kabupaten Demak, Rabu (18/10).

Dulu, kaswi setiap satu bulan sedikitnya membeli dua tabung gas. Kaswi sempat khawatir jika memasak dengan biogas hasil olahan limbah kotoran sapi akan menimbulkan bau, namun kekhawatirannya itu tidak terbukti."Buat masak tidak bau kok," ujarnya.

Selain untuk memenuhi kebutuhan energi, menurut Kaswi, ampas sisa kotoran bisa digunakan untuk pupuk kompos sehingga bisa menambah pendapatannya.

Sebab sisa kotoran sapi yang belum bisa diolah menjadi biogas per hari mencapai empat ton, mengingat kapasitas digesternya hanya delapan kubik.

9 Reaktor

Pemrakarsa reaktor biogas Desa Sidorejo, Darsono menambahkan, di desanya ada sembilan reaktor biogas. Seluruh reaktor tersebut sudah dimanfaatkan oleh 38 kepala keluarga.

Meski sudah 38 KK yang memanfaatkan biogas, Darsono masih ingin mengembangkannya. Apalagi, sudah ada tawaran dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jateng. Sayangnya, untuk menanamkan pemahaman mengenai manfaat biogas masih dirasa sulit.

“Mengubah mindset warga Sidorejo itu sulit. Awal kita memberikan wawasan biogas, untuk menggunakan sulit. Katanya bau, padahal kan tidak,” ujarnya.

Bupati Demak Mundjirin mengatakan, banyak orang yang mengelola sampah justru bisa sukses dan naik haji. Maka sampah ketika dibuang sembarangan akan jadi masalah, sementara ketika dikelola dengan baik akan jadi berkah.

"Sama juga dengan kotoran ini kalau dibuang saja jadi masalah untuk lingkungan, tapi kalau dikemas dan dimanfaatkan dengan baik bisa jadi gas," katanya.

Gubernur Ganjar Pranowo mengungkapkan, memberikan pemahaman kepada masyarakat memang tidak mudah, apalagi kalau hanya dengan ceramah. Justru yang lebih efektif adalah memberikan pemahaman dengan memberi contoh.

“Jangan diceramahi, pasti tidak mau. Caranya, disuruh nonton kemudian dikasih contohnya. Kalau sudah melihat sendiri hasilnya pasti akan tertarik," katanya.

Ia menyarankan, sembilan reaktor biogas yang kini ada bisa diceritakan terus menerus melalui media sosial. Sehingga membuat orang penasaran dan ingin datang untuk melihat langsung. Ini peluang untuk dapat dijadikan sebagai alternatif pendapatan.

“Itu juga bisa jadi alternatif tambahan penghasilan,” jelasnya. Ganjar menambahkan, hasil nyata yang diperoleh masyarakat dari pengolahan biogas, terutama untuk mengurangi kemiskinan, nantinya bisa didorong pemerintah untuk diprogramkan secara rutin. (Tribunjateng/M Nur Huda)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved