Tak Diberi Pesangon, Ratusan Buruh PT Solo Roda Mengadu Ke DPRD Kudus

Kedatangan mereka untuk mengadukan manajemen perusahaan yang sampai saat ini masih belum membayarkan pesangon karyawan

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Rifqi Gozali
Aksi ratusan buruh PT Solo Rida Indah Plastik mengadu ke DPRD Kudus menuntut pesangon, Senin (6/11/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Ratusan buruh PT Solo Roda Indah Plastik menggelar unjuk rasa di halaman DPRD Kudus, Senin (6/11/2017).

Kedatangan mereka untuk mengadukan manajemen perusahaan yang sampai saat ini masih belum membayarkan pesangon karyawan.

Selain itu, para buruh menuntut agar perusahaan membayarkan iuran BPJS yang ternyata selama ini belum dibayarkan.

"Nasib kita digantung, kami meminta pesangon sesuai dengan ketentuan," ujar Anita Dewi Pangesti (39) seorang peserta unjuk rasa.

Menurutnya, perusahaan yang resmi tutup pada 25 September 2017 itu sebelumnya juga belum membayarkan uang tunggu karyawan. Padahal sebelum resmi tutup, perusahaan tersebut belum membayarkan uang tunggu 317 karyawan yang telah dirumahkan.

"Kami meminta pesangon sesuai dengan aturan yaitu dua kali gaji dikali masa kerja," tuntut Anita.

Khoirun Nisa (32) peserta unjuk rasa lainnya mengatakan, yang sejak sebelum tutup sebelumnya pihak karyawan telah berkali-kali berusaha menemui pemilik perusahaan, M Toha, namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil.

"Kami sudah berusaha menemui untuk menuntut hasil tapi tidak pernah ketemu nasib kita digantung," katanya.

Para peserta unjuk rasa membawa poster berisi tuntutan permintaan pesangon. Di antaranya 'Pesangon Harga Mati' selain itu juga terdapat poster bertuliskan 'Bapak Bupati Musthofa Bantu Kami dari Pengusaha yang Dholim'.

Peserta yang memulai aksi pada pukul 09.00 WIB itu akhirnya sejumlah peserta aksi ditemui oleh Komisi B DPRD Kudus sekitar pukul 10.00 WIB.

Dalam pertmuan tersebut, perwakilan dari peserta aksi Rusdi mengatakan, bahwa apa yang dilakukan oleh oemilik perusahaan tidak manusiawi. Pasalnya, sebelum resmi tutup perusahaan belum membayarkan uang tunggu karyawan yang dirumahkan.

"Pada tanggal 27 September 2017 kami sudah melayangkan surat kepada perusahaan. Pihak perusahaan menjanjikan akan mebayarkan uang tunggu dan pesangon pada tanggal 29 September 2017. Tapi sampai saat ini tidak dibayarkan," katanya.

Di hadapan anggota dewan, dia juga mengeluhkan atas penutupan perusahaan. Pasalnya, PT Solo Roda Indah Plastik belum membayarkan iuran BPJS.

"Ada buruh yang sakit dirawat di rumah sakit. Saat mau pembayaran menggunakan fasilitas BPJS ternyata kartunya sudah tidak berlaku karena perusahaan tidak membayarkannya," jelasnya.

Oleh karena itu, tandasnya, pihaknya meminta anggota DPRD Kudua untuk ikut andil membela mereka dalam menunutut pesangon dan pembayaran iuran BPJS yang selama ini tidak dibayarkan.

Menanggapi hal tersebut, Mukhasiron, Ketua Komisi B DPRD Kudus akan segera mengundang semua pihak termasuk pemilik perusahaan pada Rabu (8/11/2017) mendatang.

"Kami telah menerima aduan dan keluhan para buruh. Keluhan mereka juga runtut oleh karena itu akan kami undang semua pihak termasuk pemilik perusahaan dan tidak boleh diwakilkan," katanya.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved