FOCUS

Asa Luk Keris 2018

Nogososro boleh jadi sebagai primadona dalam Pameran Keris Nusantara di Museum Jawa Tengah Rangga Warsita, Kamis (9/11).

Asa Luk Keris 2018
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

TRIBUNJATENG.COM - Nogososro boleh jadi sebagai primadona dalam Pameran Keris Nusantara di Museum Jawa Tengah Rangga Warsita, Kamis (9/11). Tribun Jateng melaporkan, sebanyak 40 kolektor berasal dari komunitas pecinta keris di Jawa memajang koleksi di event ini, dan Keris Nogososro yang banyak menyita perhatian pengunjung.

Dey Caesar, kolektor Nogososro, menjelaskan keris itu memiliki harga fantastis karena dibuat pada masa Kerajaan Mataram Lama, yang berdiri abad 8, sudah berusia 800 tahun. Untuk menebusnya, kata dia, dibanderol dengan harga Rp 75 juta.

Banyak versi tentang cerita Nogososro. Satu versi, menurut sejarah, keris yang dikenal masyarakat Jawa sebagai salah satu benda bertuah ini peninggalan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Brawijaya ke-5, sekitar abad XV. Masa dimana Majapahit mengalami kevakuman akibat ekspansi dari kerajaan lain maupun wabah penyakit dan bencana yang melanda di berbagai penjuru negari.

Atas kondisi itu Sang Raja meminta salah satu Mpu yang terkenal dengan sebutan Mpu Supa atau akrab disebut sebagai Mpu Sedayu. “Siro gaweo sijineng pusaka awujud keris kang bisa anggawe katentreman marang Majapahit ugo ngedohno sewuning mala bebayan saka rakyat Mahapahit”.

Kisah Nogososro berlanjut di masa akhir Kesultanan Demak. Kala itu terjadi geger hilangnya keris pusaka kerajaan, Nogososro Sabuk Inten. Konon, Raja kemudian membuat sayembara, bagi siapa saja bisa. Tidak lama setelah Nogososro hilang, dan tidak diketemukan, runtuhlah Kerajaan Demak dan berailh ke Pajang, Surakarta. Kekuasaan politik pun berpindah dari pesisir ke pedalaman

Dari cerita tersebut dalam versi kekinian, mengutip literatur, memunculkan perspektif, bahwa Kesultanan Demak sengaja mengembuskan isu pusaka hilang agar bisa mengadakan konvensi, yang nantinya untuk menjaring siapa yang layak menjadi pemimpin masa depan Kesultanan Demak..

Itu tentang Nogososro. Keris, umumnya, merupakan senjata pusaka dalam budaya Jawa yang sudah digunakan sejak lebih 600 tahun silam. Senjata keris ini diyakini berasal dari Pulau Jawa sekitar abad ke-9. Hingga abad ke-14, keris juga masih menjadi lambang kebesaran banyak kerajaan di Nusantara, tidak hanya di Pulau Jawa saja.

Raja-raja di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, hingga Pulau Sulawesi juga menjadikan keris sebagai lambang kedaulatannya.

Pantas dibanggakan, setelah wayang pada 2003, giliran keris Indonesia diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia yang mesti dilestarikan. Ada yang berpendapat, pengakuan UNESCO di Paris 25 November 2005 itutentu merupakan percikan berita segar di tengah serba keterpurukan negeri ini.

Tak sebatas itu, keris pun mengandung filosofi tinggi Masyarakat Jawa secara tradisional meyakini bahwa segala sesuatu yang telah genap berarti sudah selesai. Berarti sesuatu yang ganjil atau gasal belum genap. Karena itu, luk keris dibuat sengaja ganjil serbagai pengharapan atas keberlanjutan, kedinamisan, dan keinginan untuk maju.

Saat ini tahun 2017 yang kebetulan ganjil dan segera berakhir. Semoga, di tahun ganep nanti (2018) Indonesia seusai harapan dalam filosofi luk keris. Bukan asa seperti saat awal dibuatnya dan hilangnya Keris Nogososro..(tribunjateng/sujarwo)

Penulis: sujarwo
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved