LIPUTAN KHUSUS

Games Kekerasan Ikut Memicu Sikap dan Struktur Berpikir Anak

Games Kekerasan Ikut Memicu Sikap dan Struktur Berpikir Anak. News Analysis oleh Hilman Al Madani/Psikolog

Games Kekerasan Ikut Memicu Sikap dan Struktur Berpikir Anak
tribunjateng/ist
Games Kekerasan Ikut Memicu Sikap dan Struktur Berpikir Anak. News Analysis oleh Hilman Al Madani, Psikolog 

News Analysis oleh Hilman Al Madani/Psikolog

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kalau dirunut tentang fenomena anak SMP tawuran, yang marak bukan hanya di Semarang, sepertinya butuh analisa panjang. Pertama, tentu saja dimulai dari pola asuh.

Apakah pola asuh dalam rumah memiliki kehangatan? Saat otak bagian emosi harus dikembangkan di usia 5 tahun pertama, apakah genap mengembangkannya? Hal ini akan berdampak pada perkembangan emosi yang sehat dan positif.

Emosi yang tidak sehat membuat remaja kita akan bertindak didominasi otak bagian emosinya. Walhasil, cara berpikirnya adalah: emosi-aksi-pikir.

Ketika anak itu menghadapi sebuah kondisi, bagian yang merespon adalah emosi dan langsung bereaksi, tanpa berpikir terlebih dahulu. Baru berpikir setelah segalanya terlanjur, atau malah tidak sampai berpikir.

Kedua, saat emosi yang tidak genap bertemu dengan fase remaja, di mana beberapa zat kimia di otak: adrenalin (tantangan), testostereon (satu pemicu seseorang aktif agresif), dan dopmain (zat bahagia) mencapai puncaknya, saat itulah seorang anak merasa senang dan ingin aktif dalam berkegiatan yang penuh tantangan.

Pertanyaannya, di saat energi berlebih di usia ini, apakah ada arahan? Lebih banyak mana antara kegiatan harian yang begitu-gitu saja atau kegiatan penuh tantangan yang membuat mereka merasa terfasilitasi?

Satu-satunya ‘arahan’ yang lekat dengan mereka adalah games! Berapa banyak games kekerasan yang beredar dan menjadi menu wajib bagi anak dan remaja kita?

Ingat, segala informasi yang masuk ke otak dan berulang-ulang akan membentuk struktur berpikir, merubah struktur otak, dan membentuk struktur kepribadian. Games-games kekerasan turut menjadi inspirasi bagi otak dalam berperilaku.

Ketiga, fase remaja adalah fase identitas. Mereka sedang mencari jati diri. Ketidakmatangan emosi, pola asuh yang kurang mendukung, tidak adanya arahan yang positif yang sesuai dengan jiwa mereka, membuat mereka mencari dari hal-hal yang populer di grup mereka, tidak peduli benar atau salah, mengganggu orang lain atau tidak.

Kondisi blast (bored, lonly, angry, stress, tired) ditambah contoh-contoh kekerasan yang tertanam di otak membuat mereka membutuhkan jalan keluar, satu di antaranya adalah tawuran. (tribunjateng/cetak/liputan khusus)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved