Penelitian Indeks Perilaku Beragama Siswa SMA Negeri di Jateng-DIY Menyimpulkan Akhlak Ini

“Yakni akhlak terhadap Allah atau Rasulullah, diri sendiri, teman, orangtua atau guru, serta lingkungan," katanya.

Penelitian Indeks Perilaku Beragama Siswa SMA Negeri di Jateng-DIY Menyimpulkan Akhlak Ini
TRIBUN JATENG/DENI SETIAWAN
Akademisi dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (FITK UIN) Walisongo Semarang Shodiq Abdullah memaparkan beberapa penjelasan dalam Seminar Hasil Penelitian Indeks Perilaku Beragama Siswa SMA Negeri di Jawa Tengah dan DIY Yogyakarta, di Ruang Merbabu Laras Asri Spa and Resort Salatiga, Kamis (16/11/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Aji Sofanudin, Ketua Tim Peneliti pada Penelitian Indeks Perilaku Beragama Siswa SMA Negeri di Jawa Tengah dan DIY Yogyakarta memaparkan, ada beberapa hal yang pihaknya temukan selama penelitian yang dilakukan tim selama empat bulan di kedua provinsi tersebut.

Peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Agama Semarang itu mengutarakan, dalam penelitian yang difokuskan pada perilaku beragama siswa tersebut, setidaknya ada lima cakupan akhlak yang diteliti melalui teknik cluster random sampling tersebut.

“Yakni akhlak terhadap Allah atau Rasulullah, diri sendiri, teman, orangtua atau guru, serta lingkungan. Dari itu semua, kemudian kami dapati indeks perilakunya, baik secara menyeluruh maupun per aspek,” terangnya.

Kepada Tribunjateng.com, Kamis (16/11/2017), dia menginformasikan, secara umum indeks perilaku siswa SMA negeri di Jawa Tengah berkategori baik atau sebesar 3,18 persen. Tetapi jika dibagi per aspek, yang terendah pada aspek akhlak terhadapp Allah atau Rasulullah.

“Di aspek itu, indeks yang kami peroleh hanya 2,82 persen. Itu pun terjadi juga di DIY Yogyakarta yang hanya 2,84 persen dari lima aspek yang dicakup dalam penelitian tentang perilaku beragama tersebut,” paparnya.

Dia kembali merinci, di aspek akhlak terhadap Allah atau Rasullah itu, jika dibagi per kabupaten/kota di Jawa Tengah, yang paling rendah adalah di Kabupaten Wonogiri yang nilainya hanya 2,59 persen dan Kabupaten Kendal 2,65.

“Itu yang terendah dari 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah. Sedangkan yang tertinggi adalah Kabupaten Pemalang sebesar 2,98 persen, Kabupaten Pekalongan 2,95 persen, serta Kabupaten Banyumas sebesar 2,94 persen,” ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan hasil pantauan serta pengamatan selama penelitian itu, dijumpai alasan rendahnya akhlak terhadap Allah atau Rasullah tersebut. Rendah aspek tersebut lebih kepada hal-hal yang bersifat sunnah. Di antaranya seperti salat berjamaah, membaca basmallah, hingga salat tahajud.

“Rendahnya akhlak di cakupan itu karena ternyata pemahaman sunnah yang kurang tepat yang disampaikan oleh guru maupun tenaga pendidik di sekolah kepada para siswanya. Mereka mengartikan sunnah, jika dikerjakan mendapatkan pahala, jika ditinggalkan tidak apa-apa,” ucapnya.

Semestinya, lanjut Aji, makna yang cukup tepat terhadap sunnah itu yakni keistimewaan. Jika dikerjakan akan memperoleh suatu keistimewaan seperti pahala, sedangkan jika tidak dikerjakan tidak berdosa. Bukan tidak apa-apa seperti yang salah dimaknai sebagian tenaga pendidik di sekolah selama ini.

“Kami bersyukur, tidak sekadar mengejar hasil indeks penelitian. Tetapi dari yang kami lakukan ini, memperoleh banyak informasi yang selama ini ada di sekolah-sekolah khususnya di sekolah yang menjadi lokasi penelitian. Ini bakal menjadi tambahan informasi untuk dapat disampaikan ke publik, termasuk juga ke Pemerintah Pusat,” ungkap Aji.

Penulis: deni setiawan
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved