Saham Keuangan Melesat Tertinggi

Sektor keuangan sudah melesat 31,16 persen secara year to date (ytd). Sedangkan sektor industri dasar tumbuh 22,87 persen ytd

Saham Keuangan Melesat Tertinggi
TRIBUNJATENG/M SOFRI KURNIAWAN/dok
FOTO DOKUMEN Lihat pergerakan saham di pasar modal di gadget 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Beberapa sektor saham tumbuh gemilang mengungguli pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sektor keuangan, industri dasar dan pertambangan, tumbuh di atas performa IHSG yang naik 14,25 persen sepanjang tahun ini.

Sektor keuangan sudah melesat 31,16 persen secara year to date (ytd). Sedangkan sektor industri dasar tumbuh 22,87 persen ytd, disusul oleh sektor tambang yang naik 14,35 persen ytd.

Kepala Riset Erdikha Elit Sekuritas Wilson Sofan menilai, pertumbuhan sektor keuangan ditopang oleh suku bunga acuan yang cenderung melandai. "Hal ini memicu suku bunga kredit ikut turun, sehingga mampu menumbuhkan kredit konsumsi," kata Wilson, Minggu (19/11) kemarin.

Lalu, sektor tambang ditopang oleh emiten-emiten yang bergerak di bisnis batubara dan nikel. Harga kedua komoditas ini naik cukup signifikan sepanjang tahun.

Terpisah, Analis First Asia Capital, David Sutyanto mengatakan, pertumbuhan sektor industri dasar ditopang oleh beberapa saham yang punya bobot tinggi di sektor ini. Misalnya, saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang punya bobot 20,39 persen terhadap sektor industri dasar. Harga saham TPIA naik 50 persen sepanjang tahun 2017.

"Belum lagi saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) yang naik 486 persen dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dengan pertumbuhan hingga 92 persen," ujar David.
Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menambahkan, saham-saham sektor industri dasar memang mulai dilirik oleh para pelaku pasar, lantaran valuasinya sangat murah.

Tahun Depan

Namun untuk tahun depan, Teguh menilai, pelaku pasar sebaiknya melirik sektor saham yang performanya justru masih di bawah IHSG. Misalnya, saham sektor perkebunan dan properti.

Menurut dia, bangkitnya harga komoditas, seperti batubara dan nikel, diperkirakan juga akan merembet ke pergerakan harga minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO), serta komoditas perkebunan lainnya. Hal itu bisa turut menopang kinerja saham-saham sektor perkebunan.

Teguh juga merekomendasikan sektor properti karena kinerja keuangan sektor ini mulai membaik. "Adanya kelonggaran kebijakan moneter dari pemerintah dan pembangunan infrastruktur bisa menjadi pendorong," papar Teguh.

Senada, David pun melihat sektor perkebunan bisa tumbuh di tahun 2018 mendatang karena didorong harga komoditas. Selain itu, sektor tambang juga masih akan melanjutkan kejayaannya di tahun depan. Tapi, David menilai sektor properti masih belum mampu tumbuh secepat kedua sektor tersebut. (Tribunjateng/cetak/Kontan/Rizka Rahman/Dede Supriyanto)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved