Nilai Tukar Rupiah

Rupiah Diramal Lanjutkan Penguatan

Di pasar spot Kamis (23/11), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat 0,09 persen menjadi Rp 13.511 per dollar AS

Rupiah Diramal Lanjutkan Penguatan
tribunjateng/dok
Uang rupiah 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru menunjukkan sejumlah pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) khawatir terhadap tingkat inflasi yang rendah. Akibatnya, dollar melemah dan menguntungkan rupiah.

Di pasar spot Kamis (23/11), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat 0,09 persen menjadi Rp 13.511 per dollar AS dibanding hari sebelumnya. Lalu kurs tengah rupiah BI naik 0,15 persen ke Rp 13.503 per dollar AS.

Pernyataan Gubernur The Fed Janet Yellen membuat pelaku pasar menyangsikan potensi kenaikan suku bunga lanjutan pada tahun 2018.

"Ada pernyataan dovish dari Yellen yang meragukan kenaikan rate ke depannya akibat inflasi yang rendah," kata Research & Analyst Valbury Asia Futures Lukman Leong, kemarin.

Ekonom Bank Mandiri, Ruly Arya Wisnubroto juga menyatakan sejumlah pejabat The Fed mengungkapkan kekhawatiran target inflasi 2 persen tidak akan tercapai untuk waktu yang lama. Ini membuat dollar AS tertekan.

"Pasar fokus ke seberapa cepat Federal funds rate akan naik tahun depan," ujar dia.

Meski masih belum ada sentimen yang dapat menopang rupiah pada perdagangan hari ini, Rully memperkirakan rupiah akan melanjutkan penguatan. Dari AS, pasar mencermati data flash manufacturing indeks pembelian manajer (PMI) dan flash service PMI. Jumat (24/11), rupiah diprediksi menguat di Rp 13.505-Rp 13.540. Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidasi antara Rp 13.500-Rp 13.525.

IHSG

Penguatan rupiah tidak diikuti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin. IHSG berakhir di zona merah usai mencatat rekor pada hari sebelumnya. IHSG turun 0,11 persen ke level 6.063,64. Meski demikian, investor asing masih melakukan aksi beli dengan total net buy Rp 775,29 miliar.

Analis Semesta Indovest, Aditya Perdana Putra menilai, kenaikan IHSG sebelumnya mendorong investor melakukan profit taking. "Apalagi, sentimen positif dari dalam negeri masih minim," kata dia.

Analis Reliance Sekuritas, Lanjar Nafi mengatakan, sentimen negatif berasal dari harga minyak dunia yang turun 3,3 persen dalam sepekan, usai mencapai level tertingginya. Tapi Lanjar berharap, rilis data positif dari PMI manufaktur dan jasa di Eropa akan mampu menahan tekanan aksi jual dari pasar Asia hari ini.

Secara teknikal, Aditya menilai, IHSG masih berada di antara MA50 dan pergerakan MACD akan tertahan. Meski demikian, ia memprediksi IHSG berpotensi rebound dan bergerak antara support 6.030 dan resistance 6.100. Pasalnya, akan ada bargain hunting yang dilakukan investor. Sedang Lanjar memprediksi IHSG di akhir pekan berpotensi bearish dengan rentang perdagangan di level 6.028 hingga 6.070. (Tribunjateng/cetak/Kontan/Chindy Puri Salsabilah/Tane Hadiyantono)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved