Breaking News:

MERANA Nasib Petani Kapas Pekalongan di Musim Hujan (Video)

MERANA Nasib Petani Kapas Pekalongan di Musim Hujan. Karena mayoritas petani kapas tradisional andalkan sinar matahari

Penulis: budi susanto | Editor: iswidodo

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Musim hujan sudah melanda Jawa Tengah. Tentu hal ini berdampak bagi petani kapas di Kelurahan Sentono Kecamatan Pekalongan Timur.

Satu di antaranya Tasyurun (64) yang menggantungkan hidup dari pengolahan kapas untuk bahan isian bantal. Kebanyakan petani kapas di Sentono menjemur memanfaatkan panas matahari.

Tak terkeculi Tasyurun mengandalkan proses penjemuran manual.

Pria yang sudah menggeluti pengolahan kapas puluhan tahun tersebut mengatakan pergantian musim panas ke penghujan membuat tujuh pekerjanya berhenti, Rabu (22/11/2017).

"Mau bagaimana lagi, kalau hujan ya berhenti bekerja, sudah hampir seminggu kami berhenti bekerja dan mulai lagi beberpa hari ini," ujarnya.

Saat musim panas, pria 64 tahun tersebut sanggup memproduksi kapas dua kwintal untuk dijadikan bantal dan guling..

"Kalau musim panas bisa sampai dua kwintal tapi kalau hujan ya stop, kalau rugi ya pasti rugi," tambahnya.

Hingga kini hanya ada 4 perajin kapas di Kelurahan Sentono, yang awalnya 10 pengrajin berguguran karena musim yang tidak tentu.

"Sebenarnya saya sudah tidak kuat dan ingin beralih ke profesi lain, tapi ada tanggungan karyawan. Dan usaha ini sudah turun temurun dari kakek ke ayah lalu saya teruskan," tutur Tasyurun.

Dengan harga jual akhir berupa bantal yang dipatok Rp 12 ribu hingga Rp 16 ribu, Tasyurun kesulitan membayar pekerjanya. Bantal guling buatan petani kapas Sentono dijual ke Kendal, Pekalongan, Kajen dan Pemalang. (Tribun Jateng/Budi Susanto)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved