OPINI

Menguji Militansi Keguruan

Opini ditulis oleh Tri Pujiati, Dosen STAIN Kudus dan Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor: iswidodo
tribunjateng/bram
Opini ditulis oleh Tri Pujiati, Dosen STAIN Kudus dan Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Opini ditulis oleh Tri Pujiati, Dosen STAIN Kudus dan Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai hari guru Nasional. Peringatan ini penting untuk direfleksikan melahirkan serta mentuji militansi guru profesional.

Beberapa tahun lalu, pemerintah telah menggalakkan program guru profesional, namun belum menuai hasil memuaskan. Program Uji Kompetensi Guru (UKG) dan guru pembelajar yang digadang-gadang sebagai laboratorium pencetak guru profesional hanya menilai guru secara kognitif. Lalu siapa sebenarnya yang bertanggung jawab membenahi moral guru? Masifnya kekerasan di dunia pendidikan yang dilakukan oleh guru tentunya menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan.

Beragam kekerasan yang melibatkan anak-anak di sekolah akibat ulah guru selalu berulang-ulang. Mafhum disadari, dunia pendidikan tidak pernah lesu darah dihinggapi tindakan kekerasan (violence). Beberapa waktu lalu, kasus video kekerasan mengemuka dan menyebar di jagad media. Dalam video tersebut, seorang oknum guru SMPN 10 Kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung yang menghajar siswa berinisial R. Guru melakukan tindakan pemukulan, tendangan, dan penyeretan terhadap R. Setelah dikonfirmasi, kekerasan yang dilakukan karena siswa mengejek guru dengan cara memanggil nama secara langsung.

Diakui atau tidak, kekerasan yang melibatkan dunia pendidikan merupakan fenomena puncak gunung es. Tentu masih banyak sekali budaya kekerasan di dunia pendidikan belum muncul ke permukaan. Ini dapat diamati dari berbagai data yang disajikan dalam tindak kekerasan.

Berdasarkan data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang merujuk pada survei International Center for Research on Women (ICRW), Indonesia mendapatkan angka 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka kasus kekerasan di sekolah di Indonesia ini lebih tinggi dari negara Asia Tenggara seperti Vietnam (79 persen) dan Kamboja (73 persen). Bahkan lebih buruk dari negara Nepal (79 persen), dan Pakistan (43 persen).

Kekerasan di dunia pendidikan memang menyisakan dampak yang sangat dahsyat, baik secara fisik dan psikis. Secara fisik mungkin masih mudah diobati. Namun jika kekerasan berdampak pada gejala psikologis, maka akan sulit untuk disembuhkan. Bahkan dampaknya, anak-anak berpotensi akan tumbuh dan berkembang dengan beban psikologis.

Jika mencari pembenaran, tentunya sangat sulit mencari siapa yang salah dan benar dalam kasus kekerasan di atas. Mengingat, seorang guru merupakan sosok yang seharusnya bisa “digugu lan ditiru”. Dalam artian, guru merupakan suri teladan (role model) bagi peserta didiknya. Jadi, apapun yang dilakukan oleh guru, hal itu merupakan model pembelajaran kedisiplinan yang orang tua pun membenarkannya.

Namun di era sekarang, pendidikan dengan menggunakan kekerasan sangat diharamkan apapun alasannya. Guru harus menginternalisasi nilai-nilai karakter yang selanjutnya dapat ditiru oleh peserta didik. Maka tidak dibenarkan jika guru berusaha mendidik maupun mendisiplinkan siswa dengan membangun budaya kekerasan di dalam tubuh pendidikan. Karena, dari rahim kekerasan dalam dunia pendidikan itulah akan lahir generasi bangsa yang mudah marah serta meniscayakan kekerasan.

Dalam perspektif penulis, guru profesional harus mampu mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi sekaligus sebagai proses transformasi nilai (moral) (transformation of value). Sehingga, tugas utama guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, namun lebih dari itu guru harus mampu membangun moral dan karakter yang baik bagi peserta didik.

Sebagaimana Ki Hajar Dewantara dalam Majelis Luhur Taman Siswa (1977), mengonfirmasi bahwa mengasah kecerdasan budi pekerti sungguh baik, karena dapat membangun budi pekerti yang baik dan kokoh hingga dapat mewujudkan kepribadian dan karakter. Dalam artian, pendidikan merupakan proses pembentukan karakter manusia agar menjadi manusia yang sebenar-benarnya.

Sebagaimana amanat pendidikan nasional, karakter yang harus diajarkan guru kepada peserta didik adalah religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, senang membaca, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Sehingga untuk membangun peradaban pendidikan bukan lagi soal berapa nilai ulangan yang didapatkan peserta didik, namun seberapa jauh internalisasi karakter yang ditanamkan pada mental peserta didik.

Untuk menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter tersebut tentunya harus ditransformasikan oleh guru yang memiliki sikap mulia. Guru yang jauh dari tindakan kekerasan, tidak hanya mengajar karena mengejar tunjangan profesi, dan guru yang tidak hanya mengajar untuk menuntaskan materi ajar semata. Ini menjadi tugas sekaligus tantangan besar menguji profesionalisme guru. Akhirnya, pada momentum hari guru ini mampu menjadi refleksi bagi seluruh guru untuk berbenah dan meluruskan niat kembali sebagai guru profesional yang mengabdikan diri sepenuhnya di jalan pendidikan. (tribunjateng/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved