OPINI

Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW

Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW. Opini ditulis oleh M Dalhar/Mahasiswa Pascacsarjana FIB Undip Semarang

Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW
tribunjateng/cetak/bram
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW. Opini ditulis oleh M Dalhar/Mahasiswa Pascacsarjana FIB Undip Semarang 

Opini ditulis oleh M Dalhar/Mahasiswa Pascacsarjana FIB Undip Semarang

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW di negeri ini terasa berbeda dengan hari-hari yang lain. Sejak malam tanggal 1 hingga 12 bulan Rabi’ul Awal (Maulid) kaum muslim di pedesaan maupun perkotaan menyelenggarakan acara “maulid.”

Istilah maulid digunakan untuk kegiatan pembacaan shalawat atau syair-syair sejarah Nabi Muhammad SAW. Kata maulid sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu maulud yang berarti kelahiran. Maksudnya, tradisi maulid diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran manusia paling mulia, Rasulullah. Dari istilah maulud melahirkan kosa kata baru bagi masyarakat Jawa pada khususnya, yaitu mulud untuk menyebut bulan Rabi’ul Awal.

Ada juga yang menyebut tradisi pembacaan sejarah nabi dengan istilah “berjanjen”. Istilah itu diambil dari karya tulis al-Barjanjiy yang ditulis oleh Imam Ja’far al-Barjanjiy. Pada prinsipnya, karya-karya yang dibaca – seperti al-Barjanjiy, Asyraful Anam, Burdah, atau Simtuddurar – adalah sama, yakni syair-syair dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw.

Barangkali tradisi maulid atau peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW sudah berkembang sejak masa Kerajaan Islam Demak pada abad ke-15. Fakta historis tersebut dapat dilihat dari penyelenggaraan acara sekaten (baca: sekatenan) setiap sasi mulud atau Rabi’ul Awal. Wujud budaya sekaten adalah penyelenggaraan pasar rakyat dan acara religi. Hingga saat ini kita masih menyaksikan penyelenggaraan tradisi sekaten, yaitu di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.

Seiring perlananan waktu, peringatan hari kelahiran rasulullah melalui tradisi pembacaan shalawat berkembang di tengah komunitas muslim di negeri ini. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya komunitas hadrah maupun kegiatan bershalawat di beberapa kota. Bahkan ketika hari jadi Propinsi Jawa Tengah yang dipusatkan di Kabupaten Jepara akhir Agustus lalu, salah satu kegiatannya adalah bershalawat.

Umumnya masyarakat yang melakukan tradisi shalawat (baca: maulid) ini adalah kelompok muslim tradisional atau kultural. Kelompok ini didefinisikan sebagai komunitas yang mewujudkan dirinya secara substantif dalam lembaga-lembaga kebudayaan dan peradaban Islam. Dalam hal ini Islam kultural dapat terwujud dalam bidang dakwah, pendidikan, pesantren, seni, dan kebudayaan. Bahkan lebih sempit lagi, Islam kultural identik dengan “Islam ritual” atau “Islam masjid” yang tidak ada hubungannya dengan politik dan kekuasaan (Azumardi, 2009).

Di tempat penulis, Jepara, sejak lama sudah diselenggarakan acara pembacaan sejarah Nabi Muhammad melalui syair-syair berbahasa Arab. Acara diselenggarakan setelah Maghrib sampai dengan Isya. Ada juga yang menggelar bakda Isya sampai larut malam. Dengan iringan hadrah atau rebana, kasidah-kasidah yang dilantunkan menjadikan lebih berkesan. Kegiatan yang serupa, juga penulis ketahui ada di kota-kota yang lain seperti Solo Raya (Sragen, Boyolali, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten), Semarang, Demak, Pati, dan kota-kota yang lain di Jawa Tengah.

Tradisi pembacaan maulid atau doa bersama (baca: selamatan) sudah dimiliki bangsa Indonesia sejak lama. Sebuah survei di akhir abad ke-19 di pedalaman Jawa mulai dari Banyumas sampai Kediri menyebutkan ada tiga jenis tradisi selamatan yang sudah dijalankan oleh masyarakat.

Pertama, dilakukan pada hari-hari keagamaan seperti selamatan bakda haji, sasi mulud atau Rabi’ul Awal, bakda Syawal dan Ramadan. Kedua, selamatan yang digelar untuk siklus kehidupan seperti mitoni, brokohan, puput puser, dan lain sebagainya. Ketiga, selametan untuk kepentingan menjaga harmoni kehidupan manusia dengan alam seperti sedekah bumi dan bersih desa (Tahlil dan Kenduri, 2009).

Solidaritas Kebangsaan

Tradisi pembacaan maulid tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai nabi, tetapi juga upaya menjadi manusia berakhlak mulia sebagaimana yang sudah dicontohkan nabi Muhammad Saw, baik dalam bidang sosial, agama, ekonomi, politik, dan budaya.

Di samping sebagai media menumbuhkan rasa cinta dan teladan (uswatun hasanah), melalui majelis maulid ini juga menjadi sarana solidaritas lintas komunitas untuk mewariskan nilai-nilai keindonesiaan. Kegiatan ini mengkondisikan sebuah amal shaleh bagi para jamaah yang mengikutinya. Segenap potensi kemanusiaan dan solidaritas sosial digerakkan untuk menumbuhkan kebajikan dan untuk mencapai keharmonisan sosial dan keadilan bersama dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi ini yang disebut dalam bahasa orang-orang Jawa “rukun.” Nilai rukun inilah awal konstruksi kebangsaan kita. Dan ini juga yang menjadi benteng proteksi NKRI kita dari ancaman manapun, dalam maupun dari luar (Ahmad Baso, 2013).

Alhasil, tradisi kultural pembacaan maulid, maupun tradisi selamatan lainnya – tanpa disadari- ternyata memiliki kontribusi untuk penguatan nilai-nilai kebangsaan kita. Artinya, semakin ditinggalkannya tradisi semacam ini, nilai-nilai kebangsaan masyakat kita akan luntur dan hilang. Ancaman inilah yang belum banyak diketahui oleh masyarakat kita.

Kemunculan kelompok Islam kultural yang terwujud dalam kegiatan bershalawat adalah aset berharga yang dimiliki umat Islam Indonesia. Hadirnya kelompok ini dapat menjadi peneguh nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai NKRI sekaligus menjadi berbeda dengan umat Islam di negara muslim lainnya. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved