Opini
Muhammad Sang Pemimpin
Muhammad Sang Pemimpin. Opini ditulis oleh Benni Setiawan/Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU UNY, Peneliti Maarif Institute.
Opini ditulis oleh Benni Setiawan/Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Peneliti Maarif Institute.
TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - Perbincangan tentang peringatan Maulid Nabi dalam konteks ke-Indonesia-an selalu menarik. Pasalnya, setiap daerah menyajikan beragama budaya yang senantiasa bernuansa religus. Seperti di Surakarta dan Yogyakarta dengan perayaan Sekaten yang ditandai dengan membunyikan gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo.
Saat gamelan dibunyikan warga yang mendengarkan langsung mengunyah sirih dan kinang sebagai pertanda ajaran atau syiar Islam itu sudah masuk ke sanubari. Mereka pun percaya bahwa ritual itu akan mengantarkan seseorang senantiasa awet muda. Tidak hanya itu, masyarakat pun senantiasa memperebutkan dua gunungan yang diarak. Masyarakat percaya bahwa dua buah gunungan berupa hasil alam itu dapat membawa manfaat bagi kehidupannya.
Peringatan Maulid Nabi yang hadir dengan keragaman budaya dan tradisi ini sudah saatnya mengilhami masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan. Pasalnya, Muhammad s.a.w, merupakan Rasul pembawa risalah kebenaran yang mengantarkan umat manusia tercerahkan. Muhammad Rasulullah hadir di tengah peradaban yang rusak (jahiliyah) dan dengan segala kekuatannya mengupayakan tatanan masyarakat baru penuh kedamaian dan kebajikan (Islami).
Dalam catatan Muhammad Husain Haikal dalam Sejarah Hidup Muhammad sebagian besar menyebut kelahiran Muhammad s.a.w, mengatakan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan bahwa Muhammad s.a.w, lahir pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat bahwa kelahirannya lima belas tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksirkan tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksirkan sampai tujuh puluh tahun.
Selain tahun, para ahli juga berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia lahir pada bulan Rabiul Awal. Ada yang berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi mengatakan dalam bulan Rajab, sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.
Mengenai hari kelahiran Muhammad., s.a.w, pun para ahli mempunyai beragam pendapat. Satu pendapat mengatakan pada malam kedua bulan Rabiul Awal, atau malam kedelapan, atau malam kesembilan. Tetapi pada umumnya mengatakan, bahwa ia dilahirkan pada tanggal dua belas Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq.
Pemimpin Besar
Walaupun banyak pendapat mengenai kapan Rasulullah dilahirkan, ia merupakan sedikit sosok manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia. Sebagaimana dinyatakan oleh Michael Hart (1978). Hart bahkan menempatkan Rasulullah pada urutan pertama dari 100 figur yang paling berpengaruh.Bukan hanya dalam bidang keagamaan, melainkan juga hampir di seluruh aspek kehidupan.
Ia adalah seorang pemimpin besar umat dengan keteladanan. Ia tidak hanya pandai beretorika. Namun, juga menunjukkan bukti kepada umat dalam menunaikan amanat kemanusiaan.
Kedamaian dan Rekonsiliasi
Karen Armstrong Muhammad: A Biography of Propeht (1991) menyebut Muhammad s.a.w, seorang yang kompleks dan penuh kasih. Kadang ia melakukan sesuatu yang sulit kita terima, tetapi jenius dalam hal tata tertib dan mendirikan agama serta tradisi budaya yang tidak didasarkan pada pedang--seperti yang ada dalam mitos Barat – dan yang membuat nama 'Islam' identik dengan kedamaian dan rekonsiliasi.
Kedamaian dan rekonsiliasi merupakan hal utama dalam Islam. Karena hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah. Maka tindak kekerasan yang saat ini banyak disorot karena dilakukan oleh umat Islam bukanlah pribadi Muhammad s.a.w. Rekonsiliasi dengan penuh keterbukaan dan penerimaan, saling menghargai, menghormati, dan sportif merupakan awal fungsi keagungan manusia sebagai makhluk merdeka.
Lebih lanjut, apa yang dikatakan oleh Armstrong tersebut memang di luar mainstream Barat yang cenderung negatif memandang Muhammad dan Islam. Armstrong dengan gagah berani membela Muhammad dan Islam melalui penelitian mendalam berdasarkan literatur yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan intelektual.
Dalam buku selanjutnya, Muhammad: Prophet For Our Time (2007), Armstrong menyebut Muhammad., s.a.w, sebagai sosok pemberani. Ia pun menyebut Muhammad mempunyai pengalaman terhadap kepercayaan-kepercayaan monoteistik dan memberi kontribusi yang sangat berharga serta istimewa bagi pengalaman spiritual manusia.
Menilik sosok yang demikian istimewa ini sudah saatnya umat Islam tidak hanya bangga namun juga meneladani kiprahnya dalam mewarnai sejarah perjalanan umat manusia. Sebagaimana yang telah dicontohkan Muhammad s.a.w saat menjadi pemimpin.
Pada akhirnya, belajar dari kesantunan budaya lokal dan kepribadian Muhammad s.a.w, yang mulia merupakan modal utama umat Islam untuk kembali memimpin dan mewarnai peradaban. Semoga. (tribunjateng/cetak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/muhammad-sang-pemimpin-opini-ditulis-oleh-benni-setiawan_20171201_083129.jpg)